Anggota DPRD Tangsel: Keberagaman Suku dan Agama Bukan Penghalang, Tapi Kekuatan
Tangerang, KARONESIA.com – Di tengah wajah Tangerang Selatan yang makin majemuk, isu bagaimana warga dari latar belakang suku, agama, dan budaya berbeda bisa tetap hidup rukun bukan sekadar bahan diskusi seminar. Bagi H.M Salman Fariz, SE., Anggota DPRD Kota Tangerang Selatan dari Komisi IV Fraksi Partai Golkar, kearifan budaya lokal adalah kunci yang sering luput dilirik saat bicara soal harmoni sosial.
Pandangan itu ia sampaikan sebagai narasumber utama dalam Historia The Series Part 14, Minggu (9/8/2026), yang mengangkat tema “Merangkul Perbedaan, Merajut Kebersamaan dalam Kearifan Budaya Lokal”. Diskusi berlangsung di Tambi mulai pukul 15.30 WIB hingga selesai, dan diikuti peserta dari berbagai kalangan yang antusias menyimak jalannya acara hingga tuntas.



Historia The Series sendiri merupakan program diskusi dan edukasi yang digagas Yayasan Historia Tangsel, konsisten menghadirkan narasumber untuk membahas isu sejarah, sosial, dan budaya yang relevan dengan kehidupan masyarakat masa kini. Seri ke-14 ini melanjutkan format serupa, kali ini dengan fokus pada bagaimana nilai-nilai lokal bisa menjadi perekat di tengah keberagaman.
Dalam pemaparannya, Salman Fariz menegaskan bahwa perbedaan bukan sesuatu yang perlu dihindari, melainkan modal sosial yang harus dirawat bersama.
“Perbedaan latar belakang suku, agama, dan budaya bukanlah penghalang, melainkan kekuatan yang perlu dirangkul bersama untuk membangun harmoni sosial,” ujarnya.
Sebagai anggota Komisi IV yang membidangi isu kesejahteraan sosial dan kebudayaan, posisi Salman Fariz memberi bobot tersendiri pada pernyataannya, komisi ini adalah salah satu alat kelengkapan DPRD yang secara langsung bersentuhan dengan kebijakan sosial dan budaya di tingkat kota.
Dari kursi itu, ia mengajak masyarakat Tangerang Selatan untuk terus melestarikan nilai-nilai lokal sebagai fondasi menjaga persatuan, mengingat wilayah ini dihuni warga dengan latar belakang yang beragam.
Diskusi ini turut dihadiri DR. Fachrudin Zuhri, tokoh masyarakat yang juga mantan Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) sekaligus anggota Tim 9 perumus lambang daerah Tangerang Selatan.
Kehadirannya memperkaya diskusi dengan sudut pandang dari sosok yang punya keterlibatan langsung dalam merumuskan identitas kedaerahan Tangsel. Selain itu, hadir pula Ilham Suyatno, Kepala Bidang Pemuda Dinas Kepemudaan dan Olahraga (Dispora) Tangerang Selatan, bersama sejumlah aktivis pemuda lainnya.
Di sela acara, Ketua Umum Yayasan Historia Tangsel, Agam Pamungkas Lubah, menekankan pentingnya pemerintah lebih peka terhadap persoalan sejarah dan budaya daerah.
Ia juga mengingatkan agar peran sejarawan dan budayawan tidak dipukul rata, sebab keduanya memiliki fokus kerja yang berbeda meski sama-sama berkontribusi merawat identitas lokal.
Penyelenggara berharap seri diskusi ini dapat menumbuhkan kesadaran kolektif akan pentingnya toleransi dan kebersamaan lewat pendekatan kearifan lokal, sebuah pendekatan yang, menurut mereka, lebih membumi ketimbang sekadar imbauan normatif soal toleransi.
Dengan Historia The Series yang sudah memasuki edisi ke-14 dan diikuti berbagai tokoh lintas latar belakang, rangkaian diskusi ini menunjukkan pola yang konsisten: mengangkat isu sosial-budaya lewat perspektif tokoh publik dan sejarah lokal secara berkala.
Publik yang ingin mengikuti seri diskusi selanjutnya atau ingin terlibat sebagai peserta dapat menghubungi panitia penyelenggara melalui Yayasan Historia Tangsel untuk informasi jadwal ke depan.(*)
Editor : Lingga












