Konflik AS-Iran Memanas, Teheran Tolak Tekanan AS
Jakarta | KARONESIA.COM – Ketegangan konflik AS Iran meningkat tajam menjelang berakhirnya gencatan senjata, setelah Teheran secara terbuka menolak tekanan Washington di tengah ancaman militer yang kembali menguat.


Dikutip dari PressTV, Senin (20/4/2026), Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan bahwa negaranya tidak akan tunduk pada tekanan atau kekerasan dari Amerika Serikat. Ia menyebut sinyal yang dikirim pejabat Washington selama ini tidak konsisten dan justru mengarah pada upaya memaksa Iran menyerah.
Menurut Pezeshkian, ketidakpercayaan terhadap Amerika tetap tinggi akibat rekam jejak hubungan kedua negara. Ia menilai pesan-pesan yang muncul dari Washington memperlihatkan keinginan untuk mendikte hasil negosiasi, bukan mencari titik temu yang adil.
“Rakyat Iran tidak akan tunduk pada kekerasan,” tegas Pezeshkian, seperti dikutip dari PressTV.
Masih dari sumber yang sama, pemerintah Iran memastikan belum ada rencana melanjutkan putaran perundingan dengan AS setelah negosiasi sebelumnya berakhir tanpa kesepakatan. Teheran menilai kegagalan itu dipicu tuntutan berlebihan serta perubahan sikap Washington selama proses berlangsung.
Sikap keras Teheran ini kemudian beriringan dengan meningkatnya eskalasi di lapangan. Dilansir dari CNBC Indonesia, ketegangan kian memanas menjelang berakhirnya masa gencatan senjata, dengan kedua pihak saling menuduh melanggar kesepakatan.
Amerika Serikat menilai Iran mengganggu jalur pelayaran strategis di Selat Hormuz, sementara Teheran menuduh Washington melakukan blokade dan tekanan sepihak. Kondisi ini mempersempit ruang diplomasi yang sebelumnya sudah rapuh.
Presiden AS Donald Trump bahkan memperingatkan konsekuensi militer jika tidak tercapai kesepakatan baru. Ia menegaskan tekanan terhadap Iran akan terus berlanjut hingga ada konsesi, khususnya terkait program nuklir.
“Jika gencatan senjata berakhir, maka banyak bom akan mulai meledak,” ujar Trump, seperti diberitakan CNBC Indonesia.
Di sisi lain, Iran menunjukkan kesiapan menghadapi kemungkinan konflik terbuka. Sejumlah pejabat menegaskan mereka tidak akan bernegosiasi di bawah ancaman dan telah menyiapkan langkah untuk merespons setiap eskalasi.
Situasi ini memicu kekhawatiran global terhadap stabilitas kawasan Timur Tengah, terutama karena Selat Hormuz menjadi jalur vital distribusi energi dunia. Jika konflik terus meningkat, dampaknya tidak hanya dirasakan di kawasan, tetapi juga berpotensi mengguncang harga minyak dan keamanan ekonomi global.(red)













