Kala Seragam Hijau dan Kaus Oblong Menyatu di Pinggir Sungai
TANGERANG, KARONESIA.com – Bau lumpur menyengat tidak menyurutkan langkah Mayor Inf Indrat dan warga RT 006 Kelurahan Batu Jaya untuk turun ke air. Jumat pagi itu, batas-batas sosial melebur di Sungai H. Kilin. Peringatan ulang tahun ke-28 Korem 052/Wijayakrama tidak dirayakan dengan pesta pora, melainkan dengan kerja bakti yang membumi.
Matahari baru saja meninggi di langit Batuceper, Kota Tangerang, Jumat (23/10/2026), ketika puluhan orang mulai berkumpul di bantaran sungai. Sebagian mengenakan seragam loreng hijau khas TNI, beberapa berseragam cokelat kepolisian, dan sisanya yang paling banyak adalah warga setempat yang mengenakan kaus oblong seadanya.



Di bawah komando Pasi Ter Kodim 0506/Tangerang Mayor Inf Indrat, mereka tidak sedang bersiap menghadapi latihan militer. Senjata mereka hari itu adalah cangkul, garu, dan karung-karung plastik kosong. Target operasinya jelas: tumpukan sampah domestik dan sedimentasi lumpur yang menyumbat aliran Sungai H. Kilin.
Aksi karya bakti ini sengaja dipilih untuk menandai hari jadi ke-28 Korem 052/Wkr. Di tengah tren perayaan instansi yang kerap terjebak pada acara seremonial di dalam gedung, Kodam Jaya melalui Kodim 0506/Tangerang memilih untuk kembali ke akar filosofisnya: kemanunggalan dengan rakyat di garis paling depan, termasuk dalam urusan ekologi urban.
“Kegiatan ini difokuskan pada pembersihan sungai sebagai bentuk kepedulian nyata terhadap lingkungan. Kami ingin aksi ini menjadi pemantik untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dalam menjaga kelestarian alam di sekitar mereka,” ujar Mayor Inf Indrat di sela-sela kegiatan.
Bagi kawasan urban seperti Batuceper, keberadaan sungai kecil atau saluran air sering kali menjadi titik krusial. Ketika kesadaran lingkungan melemah, sungai dengan cepat berubah fungsi menjadi tempat pembuangan akhir informal. Akibatnya bisa ditebak: banjir saat musim hujan dan aroma tak sedap saat kemarau.
Oleh karena itu, keterlibatan aktif pemerintah kelurahan dan personel Polsek Batuceper dalam aksi ini bukan sekadar pemanis barisan. Ini adalah bentuk sinergi lintas sektor yang mencoba mengurai benang kusut masalah lingkungan dari tingkat tapak (akar rumput).
Saat karung-karung berisi sampah mulai menggunung di tepi jalan, aliran Sungai H. Kilin perlahan tampak lebih lega. Namun, lebih dari sekadar sungai yang bersih, hasil terpenting dari Jumat pagi itu adalah hidupnya kembali urat nadi gotong royong warga kota.
Melalui lumpur yang sama-sama dikeruk dan peluh yang sama-sama diperas, TNI dan rakyat Batuceper sedang merawat sesuatu yang lebih besar dari sekadar kebersihan fisik: mereka sedang merawat rasa memiliki atas ruang hidup bersama.(*)
Penulis: Tim Redaksi, Editor: Lingga











