Rahasia Ranpur LVTP-7 AS Era Perang Vietnam: Dipasangi Laser untuk Buru Sniper

Rahasia Ranpur LVTP-7 AS Era Perang Vietnam: Dipasangi Laser untuk Buru Sniper

Jakarta, Karonesia.com – Penggunaan teknologi senjata energi terarah (Directed Energy Weapon) belakangan ini gencar dikembangkan oleh berbagai kekuatan militer dunia. Namun, rekam jejak riset integrasi senjata laser pada kendaraan tempur (ranpur) lapis baja ternyata telah dimulai oleh militer Amerika Serikat sejak era Perang Vietnam pada dekade 1970-an.

Upaya pengembangan tersebut diwujudkan melalui proyek Mobile Test Unit (MTU) yang digagas oleh Angkatan Darat Amerika Serikat (US Army) pada 1972. Pengembangan sistem laser berkekuatan tinggi ini awalnya disiapkan secara khusus untuk mengatasi ancaman penembak jitu (sniper) milisi Viet Cong yang kerap mengintai dan menyulitkan pergerakan pasukan AS di sepanjang aliran sungai.

Sebagai platform pengusung, militer AS memilih kendaraan tempur amfibi Assault Amphibious Vehicle (AAV) atau yang dikenal dengan nama LVTP-7. Ranpur lapis baja seberat 30 ton besutan FMC Corporation tersebut kala itu terhitung sebagai armada tempur baru yang resmi diserahkan kepada Korps Marinir AS (USMC) pada 1972.

Dalam operasionalnya, ranpur berukuran panjang 7,94 meter, lebar 3,27 meter, dan tinggi 3,26 meter ini mampu mengangkut hingga 25 pasukan pendarat dengan tiga personel awak.

LVTP-7 mencatatkan kecepatan maksimum 64 km/jam di darat serta 14 km/jam saat melaju di air, menjadikannya basis yang dinilai ideal untuk membawa perangkat laser eksperimental.

Puncak pengujian sistem MTU terjadi pada Juni 1976. Dalam uji coba penembakan tersebut, senjata laser CO2 bermuatan listrik yang terpasang pada LVTP-7 berhasil menembak jatuh dua unit drone target di udara.

Peristiwa ini mencatatkan rekor sejarah sebagai momen pertama kalinya senjata laser yang diusung kendaraan darat sukses melumpuhkan sasaran udara.

Kendati mencatatkan keberhasilan teknis dalam merontokkan target, proyek eksperimental ini menghadapi kendala krusial pada sektor pasokan energi.

Pancaran laser CO2 yang dihasilkan MTU baru menyentuh daya 25 kW hingga 30 kW, masih berada di bawah target efisiensi operasional yang ditetapkan militer sebesar 50 kW.

Akibat keterbatasan output daya yang belum memenuhi standar kebutuhan tempur tersebut, proyek pengembangan prototipe MTU pada ranpur LVTP-7 resmi dihentikan oleh pihak militer pada Oktober 1976.

Meski proyek dihentikan, riset awal pada LVTP-7 ini menjadi fondasi penting bagi evolusi pengaplikasian sistem senjata laser taktis mobile di masa modern.(*)

Editor : redaksi

Bagikan Artikel Ini

Dukung jurnalisme yang akurat dan terpercaya bersama Karonesia.com

Views 4
Redaksi Karonesia
Redaksi Karonesia
Articles: 8189

Artikel Populer