⚡ BREAKING

Ibu Cahya Peluk dan Dampingi Ratusan Yatim Piatu Bekasi

Ibu Cahya Peluk dan Dampingi Ratusan Yatim Piatu Bekasi

KOTA BEKASI, KARONESIA.COM  – Ratusan anak yatim piatu di Yayasan Pundi Amal Bakti Ummat (PABU), Jalan Keramat, Jatiasih, Kota Bekasi, merasakan kehangatan yang berbeda dalam kegiatan santunan kali ini. Kehadiran Ibu Cahya, sosok wanita yang dikenal konsisten dalam aksi sosial, bukan sekadar membawa bantuan materi, melainkan membawa jiwa seorang ibu yang sungguh-sungguh hadir untuk anak-anak.

‎Sejak awal acara, Ibu Cahya sudah menunjukkan perhatiannya yang melampaui kewajiban seorang donatur biasa. Ia berbaur langsung, duduk bersama anak-anak, mendengar cerita mereka satu per satu, dan memastikan tidak ada satu pun yang luput dari perhatiannya.

Ibu Cahya menyambut dan berinteraksi dengan keluarga penerima santunan di PABU Bekasi
Ibu Cahya menyambut hangat seorang ibu beserta bayinya dalam kegiatan santunan di Yayasan PABU, Jatiasih, Kota Bekasi. (Foto: Karonesia.com)

‎”Saya tidak datang untuk sekadar menyerahkan amplop lalu pulang. Saya ingin tahu kondisi mereka, saya ingin mereka tahu bahwa ada orang yang benar-benar peduli,” tutur Ibu Cahya dengan nada tulus.

‎Kegiatan diawali dengan makan bersama sebelum seluruh peserta menuju lokasi yayasan. Di sinilah kepekaan Ibu Cahya kembali teruji. Ia menangkap fakta bahwa seorang anak hanya mengonsumsi es krim, sementara peserta lain telah menyantap makanan utama. Tanpa menunggu, ia langsung menegur panitia dengan lembut namun tegas.

‎”Tidak boleh ada anak yang terlewat. Sekecil apa pun kebutuhan mereka, kita wajib perhatikan. Kalau kita tidak peduli pada hal kecil, bagaimana kita bisa dipercaya menjaga hal yang besar?” tegasnya kepada panitia.

Ibu Cahya makan bersama anak yatim piatu di Yayasan PABU Bekasi
Ibu Cahya berbaur bersama anak yatim piatu dalam sesi makan bersama sebelum kegiatan santunan di Yayasan PABU, Jatiasih, Kota Bekasi. (Foto: Karonesia.com)

Suasana semakin hangat ketika Ibu Cahya memeluk satu per satu anak perempuan yang hadir. Pelukan itu bukan seremoni, melainkan ungkapan kasih sayang yang mengalir alami dari dalam dirinya.

‎”Mereka butuh merasakan pelukan. Mereka butuh tahu bahwa mereka dicintai. Bukan hanya oleh keluarga kandung, tapi oleh kita semua yang hadir di sini,” ucapnya sambil mengusap kepala seorang anak kecil yang berdiri di sisinya.

‎Beberapa anak tampak menitikkan air mata. Ibu Cahya pun tidak kuasa menahan harunya.

‎”Kalau melihat mereka tersenyum, saya merasa semua yang saya lakukan tidak ada apa-apanya dibanding kebahagiaan yang mereka tunjukkan. Itu yang membuat saya terus kembali,” ungkapnya.

‎Momen paling menyentuh terjadi saat Ibu Cahya berjumpa kembali dengan seorang ibu yang pernah kehilangan suami di tengah masa kehamilannya beberapa tahun silam. Pertemuan itu dipenuhi pelukan, air mata, dan rasa syukur.

‎”Saya ingat betul kondisinya waktu itu. Melihat dia sekarang sudah lebih kuat, saya merasa ini adalah balasan terbaik dari Allah atas niat baik kita. Tidak ada yang sia-sia,” kata Ibu Cahya dengan suara bergetar.

‎Bagi Ibu Cahya, makna kegiatan sosial jauh melampaui angka yang tertera di amplop santunan.

‎”Uang bisa dicari, tapi waktu dan perhatian yang kita berikan kepada mereka, itulah yang akan mereka kenang seumur hidup. Saya ingin mereka tumbuh dengan ingatan bahwa pernah ada orang yang datang, duduk bersama mereka, dan benar-benar mendengarkan,” ujarnya.

‎Ia juga menitipkan pesan kepada seluruh pengurus yayasan agar tidak pernah memandang remeh peran mereka.

‎”Pengurus yayasan adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Mereka yang setiap hari menemani anak-anak ini, memastikan mereka makan, belajar, dan bahagia. Saya hanya bisa hadir sesekali, tapi mereka ada setiap hari. Itu luar biasa,” pujinya.

‎Pemilik Yayasan PABU menyampaikan apresiasinya atas konsistensi Ibu Cahya yang tidak pernah kendur.

‎”Ibu Cahya tidak hanya datang membawa santunan, tetapi juga membawa semangat dan kasih sayang. Beliau selalu memperhatikan kondisi anak-anak secara langsung serta memberikan masukan yang membangun. Kepedulian seperti inilah yang sangat kami hargai,” ungkap pengurus yayasan.

‎Di penghujung acara, Ibu Cahya meninggalkan satu pesan yang mengena bagi semua yang hadir.

‎”Jangan tunggu kaya dulu untuk berbagi. Jangan tunggu sempurna dulu untuk peduli. Mulailah dari yang kita punya, dari hati yang tulus, dan Allah yang akan mencukupkan sisanya,” pesannya dengan senyum yang tulus.

‎Semangat itulah yang menjadi bukti bahwa kepedulian sosial, bila dijaga dengan ketulusan, akan selalu menemukan jalannya untuk menerangi kehidupan mereka yang paling membutuhkan.(*)

Karonesia
  • Penulis: Henry
  • Editor: Lingga
Bagikan Artikel Ini
Informasi terpercaya dari karonesia.com

Redaksi Karonesia
Redaksi Karonesia
Articles: 7553

Artikel Populer