Prabowo Temui Putin di Moskow, Energi Jadi Agenda Utama
Jakarta | KARONESIA.COM – Presiden Prabowo Subianto bertolak ke Moskow pada Minggu malam untuk menemui Vladimir Putin, membawa agenda ketahanan energi di tengah perang Rusia-Ukraina yang masih berlangsung dan tekanan diplomatik dari negara-negara Barat.



Prabowo lepas landas dari Pangkalan TNI AU Halim Perdanakusuma sekitar pukul 23.10 WIB, Minggu, (12/4/2026), menuju Moskow menggunakan pesawat Garuda Indonesia dalam penerbangan non-stop sekitar 12 jam. Ia dijadwalkan tiba Senin pagi waktu setempat dan langsung menggelar pertemuan empat mata dengan Presiden Rusia Vladimir Putin pada siang harinya.
Mendampingi Prabowo dalam kunjungan ini adalah Menteri Luar Negeri Sugiono, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia, serta Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya. Komposisi delegasi yang menonjolkan sosok menteri energi mengisyaratkan bahwa isu minyak dan pasokan energi menjadi substansi utama pembicaraan, bukan sekadar pertemuan seremonial.
Kunjungan ini berlangsung ketika hubungan Rusia dengan sebagian besar negara Barat masih membeku akibat invasi ke Ukraina yang dimulai pada Februari 2022. Sejumlah negara Eropa dan Amerika Serikat telah memberlakukan sanksi luas terhadap ekspor energi Rusia. Indonesia, yang selama ini menjaga posisi non-blok, belum secara resmi mengecam invasi tersebut di forum internasional.
Ketergantungan Indonesia pada impor minyak mentah terus menjadi kerentanan struktural. Data Kementerian ESDM menunjukkan Indonesia masih mengimpor jutaan barel minyak per bulan untuk memenuhi kebutuhan kilang domestik. Dalam konteks ini, membuka atau memperluas jalur pasokan dari Rusia bisa menjadi pilihan pragmatis namun bukan tanpa risiko.
”Jelang tengah malam di hari Minggu ini, 12 April 2026, Presiden Prabowo Subianto bertolak menuju Moskow, Rusia,” kata Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya dalam keterangan resminya.
”Di tengah dinamika global yang terus berubah, pertemuan ini menjadi sangat krusial,” tambah Teddy, tanpa merinci lebih lanjut parameter “krusial” yang dimaksud.
Jika kesepakatan energi tercapai, dampaknya bisa terasa hingga ke harga BBM dalam negeri dan posisi tawar Pertamina di pasar global. Namun di sisi lain, kedekatan dengan Moskow berpotensi memperumit hubungan Indonesia dengan mitra strategis Barat, termasuk Amerika Serikat dan Uni Eropa yang selama ini menjadi pasar ekspor utama produk Indonesia.
Sejauh ini, pemerintah belum mengungkap secara spesifik volume atau skema impor minyak Rusia yang akan dibahas dalam pertemuan tersebut. Detail teknis kerja sama energi yang rencananya “dilanjutkan”, mengindikasikan adanya pembicaraan sebelumnya yang belum sepenuhnya dipublikasikan masih belum diungkap kepada publik.(red)













