⚡ BREAKING
   

Bom Israel Hantam Beirut Tanpa Peringatan, 254 Tewas di Tengah Gencatan Senjata AS-Iran

Bom Israel Hantam Beirut Tanpa Peringatan, 254 Tewas di Tengah Gencatan Senjata AS-Iran

Jakarta  | KARONESIA.COM  – Serangan udara Israel menghantam lebih dari 100 lokasi di Lebanon hanya beberapa jam setelah pengumuman gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran, menewaskan sedikitnya 254 orang dan melukai 1.165 lainnya, Rabu (8/4). Serangan tanpa peringatan itu menyasar kawasan komersial dan permukiman padat di Beirut, Lembah Bekaa, dan Lebanon selatan.

Militer Israel mengonfirmasi serangan terkoordinasi tersebut sebagai operasi terbesar sejak dimulainya kampanye militer baru pada 2 Maret lalu. Dikutip dari BloombergTechnoz, Menteri Pertahanan Israel Israel Katz menyatakan serangan itu menargetkan infrastruktur Hizbullah.

“Militer Israel melakukan serangan mendadak terhadap ratusan teroris Hizbullah di pusat komando di seluruh Lebanon. Ini adalah pukulan terkonsentrasi terbesar yang dialami Hizbullah sejak Operasi Beeper,” ujar Katz dalam pernyataan video.

‎Di sisi lain, otoritas Lebanon memandang situasi ini jauh berbeda. Pertahanan Sipil Lebanon melaporkan ambulans masih terus berdatangan ke rumah sakit saat serangan berlangsung.

Menteri Kesehatan Lebanon Rakan Nassereddine menyebut negaranya tengah menghadapi “eskalasi berbahaya” dan mendesak organisasi internasional untuk segera membantu sektor kesehatan yang kewalahan.

Serangan ini memantik perdebatan diplomatik yang tajam. Dilansir dari Antaranews, AS sebelumnya menerima proposal 10 poin sebagai dasar negosiasi untuk mengakhiri perang, yang salah satu poinnya mencakup penghentian permusuhan di semua garda depan termasuk Lebanon. Iran pun mengklaim Israel telah melanggar kesepakatan tersebut.

Namun, Wakil Presiden AS JD Vance membantah keras, ia menyatakan penghentian permusuhan di Lebanon bukan bagian dari kesepakatan dan menyebut pemahaman itu sebagai “kesalahpahaman.” Presiden Donald Trump turut menegaskan bahwa konflik di Lebanon merupakan “bentrokan terpisah” karena melibatkan Hizbullah.

Dampak dari eskalasi ini turut dirasakan di pasar keuangan Indonesia. Sementara Antaranews melaporkan, nilai tukar rupiah melemah 18 poin atau 0,11 persen menjadi Rp17.030 per dolar AS pada Kamis pagi. Analis Bank Woori Saudara Rully Nova menyebut tekanan eksternal dari konflik ini mendorong harga minyak naik dan memperlemah rupiah.

Tekanan domestik juga ikut berperan: cadangan devisa Indonesia turun USD 3,7 miliar menjadi USD 148,2 miliar pada akhir Maret, sementara surplus perdagangan hanya terealisasi USD 1,2 miliar, di bawah konsensus pasar sebesar USD 1,5 miliar.

‎Eskalasi di Lebanon kini menempatkan AS pada posisi yang serba sulit: di satu sisi harus menjaga kredibilitas kesepakatan dengan Iran, di sisi lain menghadapi tekanan untuk tidak membatasi ruang gerak Israel terhadap Hizbullah. Selama ambiguitas ini bertahan, ketegangan di kawasan Timur Tengah dan imbasnya terhadap pasar global,berpotensi terus berlanjut.(red)

Karonesia
  • Penulis: Redaksi KARONESIA.COM
  • Editor: Lingga
Bagikan Artikel Ini
Informasi terpercaya dari karonesia.com
Redaksi Karonesia
Redaksi Karonesia
Articles: 7121

Artikel Populer