⚡ BREAKING
   

Tinta Perjanjian Belum Kering, AS dan Iran Sudah Beda Tafsir soal Lebanon

Tinta Perjanjian Belum Kering, AS dan Iran Sudah Beda Tafsir soal Lebanon

Gencatan senjata Iran-AS yang baru diumumkan langsung diuji oleh sengketa tafsir: Iran menyebut Lebanon masuk dalam klausul pertama perjanjian, sementara Washington menegaskan hal itu tidak pernah terjadi — dan Israel membuktikannya dengan pemboman besar ke Beirut.

Jakarta  | KARONESIA.COM – Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Qalibaf, memposting pernyataan di platform X bahwa penghentian serangan terhadap Lebanon merupakan “klausul pertama” dari proposal 10 poin yang diajukan Teheran. Namun kontradiksi langsung muncul: tidak satu pun versi dokumen yang diterbitkan media negara Iran maupun kantor berita resminya mencantumkan Lebanon dalam klausul tersebut.

Perjanjian yang ditengahi Pakistan itu diumumkan awal pekan ini di tengah harapan bahwa ketegangan antara Iran dan Israel yang melibatkan Hizbullah sebagai proksi dapat diredam. Namun perjanjian tanpa kesamaan dokumen resmi yang disepakati bersama menjadi preseden berbahaya: setiap pihak bisa mengklaim isi sesuai kepentingan politiknya masing-masing.

‎Di lapangan, konsekuensinya nyata dan berdarah. Layanan pertahanan sipil Lebanon melaporkan lebih dari 200 orang tewas dan lebih dari 1.000 lainnya luka-luka akibat serangan Israel yang diklaim menargetkan infrastruktur dan pejabat Hizbullah. Ini menjadi pemboman terbesar Israel ke Lebanon sejak perang terbaru pecah setelah Hizbullah menembakkan roket ke wilayah Israel.

‎Presiden AS Donald Trump merespons langsung ketika ditanya soal Lebanon. “Itu adalah pertempuran yang terpisah,” tegasnya kepada PBS.

‎Juru Bicara Gedung Putih Karoline Leavitt memperkuat posisi tersebut dengan menyatakan Lebanon tidak pernah menjadi bagian dari gencatan senjata, “dan hal ini telah disampaikan kepada semua pihak yang terlibat.”

‎Wakil Presiden JD Vance, yang dijadwalkan memimpin delegasi AS dalam pembicaraan damai di Islamabad akhir pekan ini, menyebut kemungkinan adanya “kesalahpahaman yang wajar” dari pihak Iran.

Namun nada Vance tajam: ia memperingatkan bahwa jika Iran memilih menggagalkan negosiasi karena persoalan Lebanon yang menurutnya “tidak ada hubungannya dengan mereka,” maka itu adalah keputusan Teheran sendiri dan ia menyebutnya sebagai “tindakan bodoh”.

‎Pembicaraan lanjutan di Islamabad menjadi ujian berikutnya bagi perjanjian yang bahkan sebelum diimplementasikan sudah retak di tingkat tafsir. Sementara diplomasi bersitegang di meja perundingan, Lebanon menanggung harga yang paling mahal.(red)

Karonesia
  • Penulis: Redaksi KARONESIA.COM
  • Editor: Lingga
Bagikan Artikel Ini
Informasi terpercaya dari karonesia.com
Redaksi Karonesia
Redaksi Karonesia
Articles: 7120

Artikel Populer