Festival Budaya Serpong, Wali Kota: Ini Benteng Identitas di Tengah Modernisasi
Tangerang Selatan, KARONESIA.com – Wali Kota Tangerang Selatan, Benyamin Davnie, menyebut festival budaya sebagai benteng terakhir identitas masyarakat di tengah gempuran modernisasi. Ia menegaskan hal itu di tengah hiruk-pikuk Festival Budaya Tingkat Kecamatan Serpong di kawasan Tandon Ciater, Minggu (2/8/2026).
Mengusung tema “Harmoni Seni Budaya di Kota Modern”, acara yang diikuti sekitar 500 peserta itu menjadi ajang pelestarian kearifan lokal sekaligus penguatan sektor pariwisata kota.
”Festival ini bukan sekadar hiburan. Ini adalah upaya menjaga kelestarian budaya dan kearifan lokal,” ujar Benyamin di hadapan Ketua DPRD Abdul Rasyid, unsur Forkopimda, serta tokoh masyarakat dan pemuda.
Rangkaian kegiatan dimulai dengan jalan sehat dan senam bersama. Panitia juga menyelipkan edukasi pemilahan sampah secara interaktif di sela-sela acara. Puncak festival diisi pertunjukan pencak silat yang memukau, atraksi palang pintu khas Betawi, serta alunan musik angklung yang dimainkan puluhan pemuda setempat.
Antusiasme warga terlihat sejak pagi. Anak-anak hingga orang tua tampak menikmati setiap atraksi yang bergiliran di panggung utama. Suasana makin semarak dengan adanya pembagian doorprize sebagai bentuk apresiasi panitia kepada masyarakat yang hadir.
Di balik kemeriahan itu, pengamanan tetap menjadi perhatian utama. Personel Babinsa Koramil 03/Serpong Sertu Edi Samto bersama Bhabinkamtibmas Aipda Suparman diterjunkan untuk mengawal jalannya acara. Kehadiran aparat gabungan TNI-Polri itu memastikan seluruh kegiatan berlangsung aman dan kondusif.
Danramil 03/Serpong Mayor Czi Hernowo menegaskan, kehadiran aparat di tengah masyarakat bertujuan memberikan rasa aman sekaligus memperkuat sinergi dengan pemerintah daerah.
”Kehadiran Babinsa adalah bentuk komitmen TNI AD untuk memperkuat sinergi dengan seluruh elemen masyarakat dalam menjaga stabilitas wilayah,” kata Hernowo.
Sementara itu, Benyamin menyoroti potensi ekonomi dari kegiatan berbasis budaya. Ia berkomitmen mendorong festival serupa sebagai daya tarik wisata yang mampu menggerakkan UMKM lokal sekaligus mempererat persatuan.
”Kami ingin Tangerang Selatan tumbuh sebagai kota modern tanpa kehilangan akar budayanya,” tegasnya.
Kegiatan edukasi sampah yang dikemas menarik juga mendapat sambutan hangat. Warga diajak memilah sampah sebelum menikmati hiburan, menjadikan festival ini tidak hanya artistik tetapi juga edukatif.
Tandon Ciater yang biasanya ramai pengunjung pada akhir pekan itu pun berubah menjadi panggung akulturasi seni, tradisi, dan kebersamaan warga Serpong. Festival berlangsung dari pagi hingga sore hari dan ditutup tanpa insiden berarti.(*)
Editor : Redaksi
Bagikan Artikel Ini
Dukung jurnalisme yang akurat dan terpercaya bersama Karonesia.com















