Pangdam Diponegoro Cek Kesiapan Revitalisasi Stasiun Tawang
Semarang, KARONESIA.com – Aroma sejarah bercampur ketegangan pengamanan menyelimuti Stasiun Semarang Tawang, Kamis (30/7/2026). Bangunan tua peninggalan kolonial itu tengah bersiap menyambut momen besar: peresmian hasil revitalisasi tahap pertama oleh Presiden Prabowo Subianto.
Di tengah persiapan itu, Panglima Kodam IV/Diponegoro Mayjen TNI Achiruddin turun langsung ke lapangan, memastikan tak ada celah kesalahan menjelang kedatangan orang nomor satu di republik ini.
Peninjauan yang dilakukan Pangdam bukan sekadar seremoni. Ia menyisir titik demi titik lokasi acara, mengecek kesiapan personel, hingga memastikan koordinasi antarunsur pengamanan berjalan solid.



Sinergi TNI-Polri, PT KAI, dan pemerintah daerah menjadi kunci agar agenda kenegaraan ini berlangsung tanpa insiden, sekaligus menegaskan bahwa pengamanan VVIP bukan perkara yang bisa dikerjakan setengah hati.
Namun di balik hiruk-pikuk pengamanan, ada cerita yang jauh lebih tua dan lebih dalam. Stasiun Tawang bukan sekadar bangunan tua yang dipoles ulang. Ia adalah saksi bisu lebih dari satu abad perjalanan transportasi Indonesia, dirancang arsitek Belanda Sloth-Blauwboer dan dibangun oleh Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij pada 1911, lalu resmi beroperasi tiga tahun setelahnya. Revitalisasi tahap pertama yang digarap PT KAI Daop 4 Semarang kini berupaya mengembalikan fasad bangunan mendekati wujud aslinya, sebuah pekerjaan yang tidak bisa dilakukan sembarangan.
Status cagar budaya membuat proses renovasi harus tunduk pada aturan ketat: Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya serta Peraturan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Nomor PM.57/PW.007/MKP/2010. Artinya, setiap sentuhan pada bangunan wajib melibatkan tenaga ahli pelestarian, bukan sekadar tukang bangunan biasa. Prinsipnya jelas: mempercantik tanpa menghapus jejak sejarah.
Bagi Kodam IV/Diponegoro, kehadiran Pangdam di lapangan mencerminkan komitmen institusi TNI dalam mengawal agenda strategis nasional di Jawa Tengah. Pengamanan yang matang bukan hanya soal menjaga keselamatan presiden, tetapi juga menjaga muka daerah di hadapan sorotan nasional.
Ketika nanti pintu Stasiun Tawang resmi dibuka kembali dengan wajah barunya, publik akan menyaksikan dua hal sekaligus: kebangkitan sebuah warisan arsitektur kolonial, dan bukti bahwa sinergi lintas institusi masih bisa bekerja rapi ketika kepentingan nasional dipertaruhkan. (*)
Editor : Lingga
Sumber : Pendam IV Dip












