Iklan Karonesia
Home » Berita » Pahlawan Nasional: Tuan Rondahaim Saragih, Jejak Perlawanan dari Sumatera Utara

Pahlawan Nasional: Tuan Rondahaim Saragih, Jejak Perlawanan dari Sumatera Utara

Jakarta, KARONESIA.com | Dari tanah Simalungun di Sumatera Utara, sejarah kembali berbicara melalui nama seorang pejuang: Tuan Rondahaim Saragih Garingging, Raja Raya Namabajan (1828–1891). Tahun ini, pemerintah menganugerahkan kepadanya gelar Pahlawan Nasional, pengakuan tertinggi negara atas jasa luar biasa dalam perjuangan menegakkan martabat bangsa.

Penganugerahan itu bukan semata bentuk penghormatan, tetapi juga penegasan bahwa narasi kepahlawanan Indonesia tidak hanya tumbuh di pusat-pusat kekuasaan, melainkan di pelosok yang sering luput dari perhatian.

Rondahaim adalah contoh nyata bahwa semangat kemerdekaan telah menyala jauh sebelum republik berdiri. Ia menolak tunduk kepada kolonialisme, mempertahankan kedaulatan wilayah Raya dengan tekad yang membuatnya dijuluki oleh Belanda sebagai Napoleon der Bataks, “Napoleon-nya orang Batak”.

Dalam sejarah lokal, Rondahaim tidak sekadar seorang penguasa adat, melainkan simbol perlawanan rakyat terhadap penindasan. Ia memadukan keberanian militer dengan kebijaksanaan politik tradisional. Ketika banyak kerajaan kecil di Sumatera Timur jatuh ke tangan kolonial, ia tetap bertahan, menolak menyerahkan martabat bangsanya kepada kekuasaan asing.

Pengakuan negara atas Rondahaim membawa pesan penting bagi masyarakat Sumatera Utara. Ini bukan hanya kebanggaan identitas daerah, melainkan pengingat bahwa nilai-nilai perjuangan dan pengabdian perlu terus hidup dalam keseharian warga.

Dalam konteks kekinian, kepahlawanan bukan lagi diukur dari peperangan, tetapi dari komitmen menjaga kejujuran, solidaritas sosial, dan keberanian membela kebenaran di tengah tantangan zaman.

Selama ini, nama Rondahaim memang sudah dikenang melalui Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dan ruas jalan utama di Pematangsiantar yang menyandang namanya. Namun makna penghargaan itu kini meluas, dari penghormatan simbolik menjadi panggilan moral.

Generasi muda Simalungun dan Sumatera Utara harus melihat dalam figur Rondahaim bukan hanya sosok masa lampau, melainkan cermin karakter yang relevan untuk masa depan: teguh, berani, dan berprinsip.

Dalam sejarah Sumatera Utara, kini telah tercatat 13 tokoh yang menyandang gelar Pahlawan Nasional yaitu:

  1. Sisingamangaraja XII SK Presiden No. 590 Tahun 1961 (9 Nov 1961) Pemimpin Batak, memimpin perlawanan terhadap Belanda.
  2. Dr. Ferdinand Lumbantobing SK Presiden No. 361 Tahun 1962 (17 Nov 1962) Dokter dan pejabat dari Sibolga.
  3. K. H. Zainul Arifin SK Presiden No. 35 Tahun 1963 (4 Mar 1963) Tokoh NU/partai Masyumi asal Barus.
  4. Tengku Amir Hamzah SK Presiden No. 106/TK/1975 Sastrawan asal Langkat.
  5. H. Adam Malik SK Presiden No. 107/TK/1998 (6 Nov 1998) Diplomat dan pejabat dari Pematang Siantar.
  6. Jenderal Besar A. H. Nasution SK Presiden No. 073/TK/2002 (6 Nov 2002) Panglima TNI, kelahiran Kotanopan.
  7. Kiras Bangun SK Presiden No. 082/TK/2005 (7 Nov 2005) Tokoh Karo dari Batu Karang, perlawanan terhadap Belanda.
  8. Tahi Bonar Simatupang SK Presiden No. 068/TK/2013 (6 Nov 2013) Militer dan tokoh gereja asal Sidikalang.
  9. D. I. Pandjaitan SK Presiden No. 111/KOTI/1965 (5 Oct 1965) Pahlawan Revolusi, asal Balige.
  10. Teuku M. Hasan — (tercantum dalam daftar media) Tokoh asal Sumut/Aceh, gubernur setelah kemerdekaan.
  11. SM Amin Nasution Keputusan Presiden No. 117/TK/2020 (10 Nov 2020) Gubernur pertama Sumut & Riau, dianugerahi gelar pahlawan ke-12 dari Sumut.
  12. Djamin Ginting — (tercantum sebagai salah satu) Tokoh militer/pejuang dari Sumut (detail SK tidak disebutkan), dan
  13. Tuan Rondahaim Saragih Garingging gelar Raja Raya Namabajan (1828–1891)

Masing-masing membawa warna perjuangan berbeda, ada yang memimpin perang, berdiplomasi di dunia internasional, atau membela kaum tertindas. Keberagaman ini menegaskan bahwa semangat heroik tidak seragam, namun berakar dari nilai yang sama: cinta pada tanah air dan keberanian menghadapi ketidakadilan.

Penghormatan kepada Rondahaim bukan sekadar pengakuan atas sejarah masa lalu, tetapi langkah strategis untuk memperkuat kebanggaan kultural dan kesadaran sejarah masyarakat lokal. Negara yang besar adalah negara yang menghargai jasa para pendahulu, tanpa menghapus akar daerah dan identitasnya.

Kini saatnya pemerintah daerah, lembaga pendidikan, dan komunitas kebudayaan menjadikan kisah Rondahaim sebagai bagian dari pendidikan sejarah dan karakter bangsa. Di tengah tantangan modernitas, warisan moral seperti inilah yang menjadi kompas bagi generasi muda agar tak kehilangan arah.

Karena pahlawan sejati, seperti Rondahaim Saragih, bukan hanya dikenang tetapi dihidupkan kembali dalam sikap dan tindakan kita hari ini.(*)

Bagikan artikel ini untuk menyebarkan informasi terpercaya dari karonesia.com.

Foto Editor

Editorial: Redaksi
© KARONESIA 2025

Artikel ini telah tayang di Karonesia.com dengan judul "Pahlawan Nasional: Tuan Rondahaim Saragih, Jejak Perlawanan dari Sumatera Utara"
Link: https://karonesia.com/nasional/pahlawan-nasional-tuan-rondahaim-saragih-jejak-perlawanan-dari-sumatera-utara/