JAKARTA (KARONESIA.COM) – Iran menetapkan Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi baru Republik Islam Iran pada Minggu (8/3/2026) waktu Teheran. Keputusan tersebut diambil oleh Majelis Ahli Iran untuk menggantikan ayahnya, Ali Khamenei, yang dilaporkan tewas dalam gelombang serangan militer terhadap Teheran pada akhir Februari lalu.
Penunjukan Mojtaba menandai babak baru dalam kepemimpinan politik Iran di tengah situasi keamanan yang masih memanas. Serangan militer yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari lalu disebut menjadi salah satu peristiwa paling dramatis dalam sejarah Republik Islam Iran sejak berdiri pada 1979.
Sejumlah laporan media internasional, termasuk Reuters, menyebutkan Mojtaba selama bertahun-tahun dikenal sebagai figur berpengaruh di lingkaran kekuasaan ayahnya. Meski jarang tampil di ruang publik, ulama berusia 56 tahun tersebut disebut memainkan peran penting dalam mengelola jaringan politik, keagamaan, serta hubungan dengan aparat keamanan negara.
Lahir di kota suci Mashhad pada 1969, Mojtaba tumbuh di tengah dinamika politik pascarevolusi Iran. Ia juga dilaporkan pernah terlibat dalam pertempuran selama Perang Iran-Irak pada dekade 1980-an. Berbeda dengan banyak pejabat tinggi Iran lainnya, Mojtaba tidak pernah menduduki jabatan pemerintahan formal maupun mengikuti pemilihan umum.
Pengaruhnya lebih banyak berkembang melalui hubungan dekat dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), kekuatan militer elit yang memiliki peran besar dalam sistem politik dan keamanan Iran. Kedekatan tersebut membuat namanya kerap disebut sebagai salah satu tokoh paling berpengaruh di balik layar selama masa kepemimpinan ayahnya.
Proses penetapan pemimpin tertinggi baru Iran berlangsung dalam situasi yang tidak biasa. Sidang Majelis Ahli Iran yang menentukan pengganti Ali Khamenei dilaporkan digelar dalam suasana penuh tekanan politik dan keamanan, dengan sebagian pertemuan dilakukan secara daring.
Beberapa laporan menyebutkan para anggota majelis memiliki waktu terbatas untuk menyampaikan pandangan sebelum pemungutan suara dilakukan. Keputusan akhirnya menetapkan Mojtaba sebagai pemimpin tertinggi ketiga sejak berdirinya Republik Islam Iran.
Reaksi internasional muncul segera setelah kabar penunjukan tersebut beredar. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, sebelumnya menyatakan Washington seharusnya memiliki peran dalam menentukan arah kepemimpinan Iran. Namun setelah pengumuman resmi keluar dari Teheran, pemerintah Amerika Serikat memilih menunggu perkembangan situasi selanjutnya.
Di dalam negeri Iran, respons publik terhadap penunjukan Mojtaba terlihat beragam. Media pemerintah menayangkan sejumlah laporan mengenai warga yang merayakan keputusan tersebut. Namun di media sosial juga beredar rekaman yang memperlihatkan sebagian warga menyuarakan penolakan dari rumah-rumah mereka di Teheran.
Ketegangan politik tersebut terjadi bersamaan dengan meningkatnya kekhawatiran di pasar global. Konflik di kawasan Timur Tengah telah mendorong harga minyak dunia menembus lebih dari 100 dolar AS per barel, memicu kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi internasional.
Para pengamat menilai kepemimpinan Mojtaba akan menghadapi tantangan besar sejak awal masa jabatannya. Selain harus menjaga stabilitas politik domestik, ia juga dituntut mengelola hubungan luar negeri Iran di tengah meningkatnya tekanan militer dan diplomatik dari sejumlah negara Barat.
Situasi itu membuat kepemimpinan baru Iran memasuki fase yang sangat menentukan. Dengan konflik yang belum mereda dan dinamika politik internal yang terus berkembang, Mojtaba Khamenei kini memikul tanggung jawab besar untuk menjaga arah masa depan Republik Islam Iran di tengah ketidakpastian kawasan.(*)
Sumber: Reuters, Al Jazeera, dan laporan media internasional
Link: https://karonesia.com/internasional/putra-mahkota-teheran-mojtaba-khamenei-dan-beban-memimpin-iran-di-tengah-perang/

