Di Tengah Tekanan Biaya Produksi, Digitalisasi Jadi Kunci Bertahan Peternak Ayam
Tangerang, KARONESIA.com – Digitalisasi mulai menjadi kebutuhan penting bagi peternak ayam pedaging di tengah tekanan biaya produksi yang tinggi dan perubahan kondisi lingkungan kandang. Di saat biaya pakan dapat menyerap hingga sekitar 70 persen total biaya produksi, kemampuan membaca data dan mengendalikan mikroklimat kandang dinilai semakin menentukan efisiensi usaha.
Persoalan tersebut dikupas dalam Historia Series 15 melalui diskusi Ngonsep bertajuk “Perempuan di Era Transformasi Digital dalam Efisiensi Manajemen Pakan dan Mikroklimat Kandang Ayam Pedaging” di Tambi Historia, Tangerang Selatan, Minggu (16/8/2026). Diskusi menghadirkan Susy Karnawati, pengusaha sekaligus tokoh perempuan Tangerang Selatan yang selama ini aktif mendampingi kelompok peternak perempuan, serta dipandu Abi Carlos.
Industri ayam pedaging atau broiler menjadi salah satu bagian penting dalam rantai ketahanan pangan nasional. Namun, di tingkat peternak, khususnya skala kecil dan menengah, terdapat persoalan klasik yang terus memengaruhi margin usaha. Selain biaya pakan yang tinggi, fluktuasi suhu dan kelembapan kandang dapat menyebabkan ayam mengalami stres, pertumbuhan tidak optimal, hingga meningkatkan risiko kematian.
Dua persoalan tersebut pada akhirnya tidak hanya berkaitan dengan teknis pemeliharaan, tetapi langsung berpengaruh terhadap biaya produksi dan keuntungan peternak. Karena itu, digitalisasi mulai dilihat bukan sekadar sebagai penggunaan perangkat modern, melainkan sebagai instrumen untuk meningkatkan kemampuan peternak mengendalikan usaha.

Manajemen pakan berbasis data, misalnya, memungkinkan konsumsi pakan dicatat secara lebih teratur. Data tersebut kemudian dapat digunakan untuk menghitung Feed Conversion Ratio (FCR) dan membantu peternak mengevaluasi efisiensi penggunaan pakan. Dengan informasi yang lebih cepat dan terukur, penyesuaian manajemen pakan dapat dilakukan berdasarkan kondisi aktual ternak, bukan semata berdasarkan perkiraan.
Sementara itu, persoalan lain yang tidak kalah penting adalah mikroklimat kandang. Suhu, kelembapan, dan sirkulasi udara memiliki pengaruh terhadap kenyamanan dan pertumbuhan ayam. Perubahan kondisi yang tidak segera diketahui dapat meningkatkan risiko stres dan berdampak pada produktivitas.
Teknologi sensor memungkinkan kondisi tersebut dipantau secara lebih praktis. Data dapat diakses melalui telepon seluler sehingga peternak tidak selalu harus melakukan pemeriksaan manual berulang kali. Bagi peternak, kemampuan mendapatkan informasi lebih awal menjadi penting. Ketika terjadi perubahan kondisi yang berada di luar batas normal, sistem monitoring dapat memberikan peringatan sehingga tindakan korektif dapat dilakukan lebih cepat.
Digitalisasi juga dapat dikembangkan melalui aplikasi monitoring terintegrasi yang mencatat berbagai aktivitas, mulai dari jadwal vaksinasi, perkembangan bobot ternak, konsumsi pakan, hingga kondisi kandang.
Dalam diskusi tersebut, Susy Karnawati menyoroti pentingnya menerjemahkan teknologi yang terlihat rumit menjadi sesuatu yang sederhana dan mudah digunakan peternak. Ia membagikan pengalaman dalam mendampingi kelompok peternak perempuan melalui berbagai contoh lapangan dan studi kasus untuk menunjukkan bagaimana teknologi sederhana dapat memberikan dampak terhadap efisiensi apabila digunakan secara tepat.
Perspektif tersebut menjadi penting karena tantangan digitalisasi bukan hanya soal ketersediaan perangkat, tetapi juga kemampuan pengguna memahami manfaatnya. Peternak tidak selalu membutuhkan sistem yang kompleks. Yang dibutuhkan adalah teknologi yang mampu menjawab persoalan sehari-hari, mudah dipelajari, biaya penggunaannya masuk akal, serta memberikan manfaat yang dapat diukur.
Di sisi lain, perempuan memiliki posisi penting dalam rantai usaha peternakan rakyat. Di banyak keluarga peternak, perempuan tidak hanya terlibat dalam aktivitas harian, tetapi juga menangani pencatatan keuangan, mengelola kebutuhan rumah tangga usaha, memantau perkembangan usaha, hingga ikut menentukan keputusan ekonomi keluarga.
Namun, akses perempuan terhadap pelatihan dan teknologi masih perlu diperluas. Kesenjangan literasi digital dapat membuat teknologi yang sebenarnya bermanfaat justru terasa rumit dan jauh dari kebutuhan mereka. Karena itu, diskusi Ngonsep menempatkan perempuan sebagai bagian penting dari transformasi digital. Fokusnya bukan sekadar mengajarkan penggunaan perangkat, tetapi bagaimana teknologi dapat disederhanakan sehingga bisa diadopsi peternak perempuan tanpa membutuhkan latar belakang teknis.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, Ketua Bidang Litbang Historia Tangsel Daeng Rahmat menekankan pentingnya data dalam pengelolaan peternakan.
”Data membuat peternak tidak lagi hanya mengandalkan perkiraan. Ketika konsumsi pakan, suhu, kelembapan, dan perkembangan ayam tercatat dengan baik, peternak memiliki dasar yang lebih kuat untuk menentukan tindakan sebelum masalah menjadi lebih besar,” ujar Daeng Rahmat.
Pemanfaatan data membuat peternak memiliki gambaran lebih jelas mengenai kondisi usahanya. Catatan konsumsi pakan, perkembangan bobot, kondisi mikroklimat, hingga riwayat vaksinasi dapat menjadi dasar evaluasi untuk menentukan langkah berikutnya. Dengan demikian, teknologi tidak berhenti sebagai perangkat pencatat, tetapi menjadi alat bantu pengambilan keputusan.
Adapun Ketua Umum Yayasan Historia Tangsel Agam Pamungkas Lubah menilai transformasi digital tidak harus dimulai dengan teknologi mahal.
”Transformasi digital tidak harus dimulai dari teknologi yang mahal. Yang lebih penting adalah bagaimana teknologi itu menjawab persoalan nyata di kandang, mudah digunakan, dan membantu peternak mengambil keputusan dengan lebih cepat dan tepat,” kata Agam.
Pandangan tersebut menegaskan bahwa digitalisasi perlu disesuaikan dengan kemampuan dan kebutuhan peternak, khususnya pelaku usaha kecil dan menengah. Teknologi yang terlalu kompleks justru berpotensi sulit diterapkan apabila tidak dibarengi edukasi dan pendampingan. Karena itu, literasi menjadi bagian penting dari proses transformasi.
Selain itu, Indah Arli, Wanita Tangguh Tangsel sekaligus penggiat UMKM Tangsel, melihat penguasaan teknologi sebagai bagian dari penguatan posisi perempuan dalam pengelolaan usaha.
”Ketika perempuan mampu membaca data dan menggunakan teknologi, posisi mereka dalam mengambil keputusan usaha menjadi semakin kuat. Teknologi bukan hanya soal perangkat, tetapi juga tentang membangun keberanian untuk mengambil keputusan berdasarkan kondisi nyata,” ujar Indah.
Perspektif tersebut memperlihatkan bahwa digitalisasi memiliki dimensi yang lebih luas. Penguasaan teknologi dapat meningkatkan kapasitas perempuan dalam mengelola informasi, mengontrol usaha, sekaligus berkontribusi dalam keputusan ekonomi keluarga.
Ketua FKDM Tangsel Babeh Fahrudin Zuhri melihat efisiensi peternakan rakyat tidak hanya berdampak terhadap pelaku usaha, tetapi juga terhadap ketahanan ekonomi masyarakat.
”Ketika peternak rakyat semakin efisien, yang diperkuat bukan hanya satu usaha, tetapi juga ketahanan ekonomi keluarga dan masyarakat. Karena itu, akses terhadap pengetahuan dan teknologi harus dibuka seluas mungkin,” katanya.
Karena itu, transformasi digital membutuhkan kolaborasi antara peternak, komunitas, pelaku UMKM, pemerintah, akademisi, dan berbagai pemangku kepentingan. Tujuannya agar teknologi tidak hanya dinikmati pelaku usaha yang sudah maju, tetapi juga dapat menjangkau peternak rakyat yang membutuhkan solusi praktis dan terjangkau.
Ngonsep dalam Historia Series 15 menjadi ruang bertukar pengalaman antara pelaku usaha, komunitas, dan masyarakat mengenai persoalan serta solusi yang dapat diterapkan dalam pengelolaan peternakan. Pembahasan mengenai manajemen pakan, FCR, sensor mikroklimat, monitoring melalui telepon seluler, hingga literasi digital perempuan menunjukkan bahwa transformasi teknologi dapat dimulai dari persoalan sederhana di tingkat kandang.
Tantangannya adalah memastikan teknologi tersebut tidak berhenti sebagai wacana. Bagi peternak, manfaat akhirnya tetap harus kembali pada tiga hal utama: biaya produksi yang lebih terkendali, produktivitas yang lebih baik, dan usaha yang semakin berdaya saing.
Di tengah perubahan sektor peternakan yang semakin cepat, perempuan memiliki peluang untuk menjadi bagian penting dari perubahan tersebut. Bukan hanya sebagai pengguna teknologi, tetapi sebagai pengelola data, pengambil keputusan, pelaku usaha, sekaligus penggerak ekonomi keluarga.



Editor : Lingga
Sumber : Historia Tangsel












