Cegah Tawuran, Babinsa Rajeg Sambangi Pelajar yang Nongkrong Usai Sekolah
Upaya meminimalisir kenakalan remaja terus digencarkan aparat di lapangan. Kali ini, Babinsa dan Bhabinkamtibmas memilih pendekatan persuasif dengan turun langsung menemui para pelajar, dinilai jauh lebih efektif ketimbang sekadar imbauan formal.
Tigaraksa | KARONESIA.COM – Babinsa Desa Sukamanah, Serda Sugeng Riyadi, bersama Bhabinkamtibmas Aiptu M. Wirman, menyambangi sejumlah siswa SMPN 1 Rajeg yang sedang berkumpul di Pos Kamling Kampung Seglog, Senin (30/3/2026) sekitar pukul 11.30 WIB.
Kehadiran mereka bukan tanpa alasan. Lokasi tersebut menjadi tempat favorit para siswa bersantai usai pulang sekolah. Padahal, situasi seperti ini kerap menjadi potensi pemicu kenakalan remaja jika tidak diarahkan dengan baik.
Dalam kesempatan itu, kedua aparat tak datang dengan wajah garang. Mereka berdialog santai namun tegas, menanamkan pemahaman soal bahaya tawuran antar pelajar yang bisa berujung pada jerat hukum hingga cedera fisik yang permanen.
“Kami ingin mereka sadar bahwa berkelahi tidak menyelesaikan masalah, justru bisa menghancurkan masa depan mereka sendiri,” ujar Serda Sugeng Riyadi saat ditemui di lokasi.
Selain soal tawuran, perhatian khusus juga diberikan pada bahaya merokok di usia dini. Menurutnya, kebiasaan buruk ini seringkali menjadi pintu gerbang masuk ke dalam pergaulan bebas dan hal-hal negatif lainnya.
Poin krusial lain yang ditekankan adalah bahaya penyalahgunaan narkoba. Aparat menegaskan, zat terlarang itu tidak hanya merusak organ tubuh, tapi juga bisa mengubah nasib baik menjadi buruk dalam sekejap.
Suasana kegiatan terasa sangat cair dan humanis. Para pelajar tampak antusias menyimak setiap arahan tanpa ada rasa tegang maupun penolakan. Pendekatan ini dipilih agar pesan yang disampaikan bisa meresap lebih dalam ke hati mereka.
Sementara itu, Danramil Rajeg Kapten Inf Teguh Rusmadi, menyambut positif langkah preventif yang dilakukan anggotanya. Menurutnya, kehadiran aparat di tengah masyarakat, khususnya di kalangan remaja, adalah kunci utama menjaga kondusivitas wilayah.
“Kami tidak menunggu masalah terjadi baru bertindak. Pencegahan jauh lebih baik daripada penindakan. Dengan berdialog, kami membangun kedekatan dan kesadaran sejak dini,” tegasnya.
Kegiatan berjalan aman dan tertib hingga selesai. Langkah ini menjadi bukti nyata bahwa menjaga generasi muda tak selalu harus dengan cara keras, melainkan juga lewat kehadiran, perhatian, dan dialog yang menyentuh hati.(*)














