⚡ BREAKING

Dampak Konflik Timur Tengah Terasa Paling Berat di Global South

Dampak Konflik Timur Tengah Terasa Paling Berat di Global South

Jakarta | KARONESIA.COM  – Ketegangan geopolitik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran kembali mengancam stabilitas ekonomi dunia. Gelombang kejut dari konflik ini tidak menyebar merata, dan kelompok negara berkembang justru menanggung beban yang jauh lebih berat dibandingkan negara maju.

‎Berdasarkan laporan dari Pelita Karawang yang merupakan saduran dari TVRI News dan data Centre for Global Development, posisi negara berkembang menjadi paling rentan karena dua alasan utama: ketergantungan tinggi pada impor energi dan keterbatasan ruang fiskal untuk menahan lonjakan harga.

‎Iran menyumbang sekitar 3,5% dari total produksi minyak global, dengan volume sekitar 3,18 juta barel per hari pada akhir 2025. Lebih krusial lagi, Selat Hormuz yang berada di dekat wilayahnya menjadi jalur vital yang dilalui 19,87 juta barel minyak per hari atau sekitar 30% perdagangan minyak laut dunia, serta 20% pasokan gas alam cair (LNG) global.

‎Setiap eskalasi konflik berpotensi mengganggu aliran pasokan ini. Jika jalur tersebut terganggu secara signifikan, harga minyak dunia bisa melonjak drastis, yang langsung memukul negara-negara yang hampir seluruh kebutuhan energinya didatangkan dari kawasan Teluk Persia.

‎Contoh nyata terlihat di Pakistan, yang mengandalkan sekitar 80% pasokan energinya dari kawasan tersebut. Pemerintah setempat sudah memberlakukan langkah darurat: mengurangi hari kerja menjadi empat hari seminggu, menutup sekolah sementara waktu, dan membatasi penggunaan listrik untuk menghemat cadangan bahan bakar.

‎Kondisi serupa juga dialami Bangladesh, Sri Lanka, dan berbagai negara di Afrika. Mereka menghadapi tekanan ganda: inflasi yang melonjak akibat kenaikan biaya produksi dan transportasi, serta defisit neraca perdagangan yang semakin melebar karena biaya impor yang membengkak.

‎Berbeda dengan negara maju yang memiliki cadangan energi cukup dan sistem keuangan yang lebih tangguh, negara berkembang sulit memberikan subsidi besar-besaran. Beban utang yang tinggi dan nilai tukar mata uang yang cenderung melemah semakin memperkecil ruang gerak pemerintah untuk mengambil langkah mitigasi.

‎Ketidakpastian yang berkepanjangan juga membuat investor cenderung menarik dana dari pasar negara berkembang. Modal asing lebih memilih mengalir ke aset aman seperti emas, obligasi negara maju, atau dolar AS, yang semakin memperlambat pertumbuhan ekonomi di kawasan Global South.

‎Sampai saat ini, belum ada tanda-tanda penurunan eskalasi konflik dalam waktu dekat. Para ekonom memperingatkan bahwa tekanan pada ekonomi negara berkembang bisa berlangsung cukup lama, jika tidak segera ada upaya deeskalasi dari berbagai pihak yang terlibat.(*)

Karonesia
  • Penulis: Redaksi KARONESIA.COM
  • Editor: Lingga
Bagikan Artikel Ini
Informasi terpercaya dari karonesia.com
Redaksi Karonesia
Redaksi Karonesia
Articles: 7030

Artikel Populer