Jakarta (KARONESIA.COM) – Serangkaian ledakan mengguncang ibu kota Iran, Teheran, ketika konflik antara Iran dan Israel memasuki fase yang semakin berbahaya. Ketegangan militer yang meningkat tidak hanya memicu serangan lintas negara, tetapi juga menimbulkan kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi dunia.
Pemerintah Iran menuduh Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan udara besar-besaran ke berbagai wilayah negaranya selama hampir dua pekan terakhir. Otoritas Iran menyatakan hampir 10.000 lokasi menjadi sasaran serangan, termasuk sejumlah kawasan yang diklaim sebagai area sipil.
Lebih dari 1.300 warga sipil dilaporkan tewas sejak konflik meningkat, sementara sejumlah kota mengalami kerusakan infrastruktur yang cukup serius. Situasi tersebut dilaporkan Al Jazeera yang mengutip pernyataan pejabat Iran mengenai dampak serangan di berbagai wilayah negara itu.
Konflik semakin meluas ketika Iran meluncurkan serangan balasan berupa rudal jarak jauh ke wilayah Israel. Beberapa proyektil dilaporkan menghantam kota besar seperti Tel Aviv dan Jerusalem, meningkatkan ketegangan militer di kawasan tersebut.
Di perbatasan Lebanon, kelompok Hezbollah juga terlibat dalam pertukaran serangan dengan militer Israel. Serangan roket dan tembakan artileri dari kedua pihak memperlihatkan bahwa konflik kini melibatkan lebih banyak aktor bersenjata di Timur Tengah.
Negara-negara di kawasan Teluk juga meningkatkan kewaspadaan setelah sejumlah rudal dan drone terdeteksi melintasi wilayah udara regional. Bahrain, Kuwait, Qatar, dan Uni Emirat Arab dilaporkan berhasil mencegat beberapa proyektil dalam beberapa jam terakhir.
Di tengah eskalasi konflik tersebut, militer Amerika Serikat mengklaim telah menghancurkan 16 kapal penebar ranjau milik Iran yang disebut tidak aktif. Operasi tersebut dilakukan untuk mencegah potensi gangguan terhadap jalur pelayaran minyak internasional.
Selat Hormuz yang menghubungkan Teluk Persia dengan pasar energi global merupakan salah satu jalur pelayaran paling strategis di dunia. Sekitar sepertiga perdagangan minyak dunia, atau hampir 20 juta barel per hari, melewati perairan sempit tersebut.
Presiden Amerika Serikat saat itu memperingatkan bahwa setiap upaya mengganggu jalur energi internasional akan memicu respons serius dari Washington. “Kami tidak akan membiarkan siapa pun mengganggu arus energi global melalui Selat Hormuz,” kata Donald Trump.
Para analis energi menilai eskalasi konflik di sekitar jalur pelayaran tersebut dapat memicu lonjakan harga minyak dunia. Ketidakpastian geopolitik di kawasan Timur Tengah kerap menjadi faktor utama yang memengaruhi stabilitas pasar energi global.
Bagi negara seperti Indonesia yang masih mengandalkan impor minyak untuk memenuhi kebutuhan energi, situasi ini berpotensi memengaruhi stabilitas harga bahan bakar dan biaya produksi di dalam negeri.
Jika konflik terus meningkat, kawasan Timur Tengah berisiko menghadapi krisis keamanan regional yang lebih luas. Kondisi itu juga dapat memicu efek domino terhadap ekonomi global yang sangat bergantung pada stabilitas pasokan energi dari wilayah tersebut.(*)
Link: https://karonesia.com/nasional/update-news/konflik-timur-tengah-pasokan-minyak-dunia/

