KARONESA.COM | Banten – Provinsi Banten tengah menghadapi tantangan serius dalam transformasi ekonominya. Ketimpangan wilayah antara utara dan selatan menciptakan jurang pertumbuhan yang lebar. Di tengah gencarnya industrialisasi di Tangerang, Cilegon, dan Serang, daerah selatan seperti Lebak dan Pandeglang masih tertinggal jauh.
Letak geografis Banten yang strategis seharusnya menjadi motor pertumbuhan wilayah. Tapi hingga kini, kemajuan hanya terkonsentrasi di wilayah utara. Sementara selatan nyaris tertinggal dalam banyak hal—dari infrastruktur dasar hingga akses ekonomi produktif.
Gubernur Banten Andra Soni tak tinggal diam. Ia menegaskan bahwa pembangunan Banten tak boleh timpang. Kunci utama transformasi ekonomi ada pada percepatan pembangunan infrastruktur yang merata dan terintegrasi antarwilayah.
Salah satu proyek andalan yang jadi harapan besar adalah Tol Serang–Panimbang (SPT). Jalan tol sepanjang 83,6 km ini digadang-gadang memangkas waktu tempuh dari Serang ke KEK Tanjung Lesung dari 4 jam menjadi hanya 2 jam.
Tol ini tak hanya akan mendongkrak sektor pariwisata, tapi juga membuka akses logistik untuk produk-produk dari Lebak dan Pandeglang. Akses ini krusial bagi distribusi hasil pertanian, perikanan, dan UMKM agar bisa masuk ke pasar besar di wilayah utara.
Selain itu, pembangunan infrastruktur lainnya seperti rel kereta Rangkasbitung–Labuan, pelabuhan Bojonegara, dan penyediaan listrik serta air bersih di desa-desa terpencil juga sedang dipercepat. Koneksi antarwilayah bukan sekadar simbol pembangunan, tapi fondasi nyata untuk membuka potensi ekonomi.
Fakta kesenjangan ekonomi tercermin jelas dari data. Per 2024, angka kemiskinan di Pandeglang masih 9,18%, sementara Tangerang Selatan hanya 2,36%. Ini bukan soal statistik semata, tapi kenyataan bahwa pembangunan belum menyentuh semua wilayah.
Sektor industri selama ini menyumbang lebih dari 30% PDRB Banten. Tapi pertumbuhan ini belum merata. Industri besar masih menumpuk di utara, padahal selatan punya potensi besar: tenaga kerja muda, lahan luas, dan kedekatan dengan kawasan strategis.
Karena itu, Pemprov Banten tengah mendorong pengembangan kawasan industri baru di selatan. Konsepnya tak hanya padat modal, tapi juga padat karya. Fokus diarahkan pada pengembangan agroindustri, maritim, ekonomi kreatif, dan pariwisata berbasis lokal.
Industri kecil dan menengah (IKM) dan UMKM jadi kunci. Produk batik Lebak, makanan khas Pandeglang, dan kerajinan lokal bisa jadi motor ekonomi jika terhubung melalui sistem distribusi yang andal dan platform digital yang memadai.
Semua ini butuh kolaborasi. Pemerintah pusat, provinsi, kabupaten/kota, dunia usaha, dan masyarakat harus bergerak bersama. Tanpa integrasi visi dan aksi lintas sektor, pemerataan pembangunan akan jadi mimpi yang terus tertunda.
Transformasi ekonomi Banten bukan sekadar membangun jalan atau kawasan industri. Ini soal membangun keadilan wilayah. Supaya Banten tak hanya maju di atas kertas, tapi juga merata dirasakan semua rakyatnya, dari utara sampai selatan.
Editor: Lingga
Copyright © KARONESIA 2025