⚡ BREAKING

Kemandirian Pangan Kunci Hadapi Tantangan Global, GCP Soroti Hilirisasi hingga Penguatan Koperasi Desa

Kemandirian Pangan Kunci Hadapi Tantangan Global, GCP Soroti Hilirisasi hingga Penguatan Koperasi Desa


TANGERANG SELATAN, KARONESIA.COM – Penguatan kemandirian pangan dinilai menjadi fondasi utama dalam menjaga ketahanan ekonomi nasional di tengah dinamika geopolitik dan ketidakpastian ekonomi global. Upaya tersebut harus diwujudkan melalui penguatan sektor hulu hingga hilir, hilirisasi komoditas strategis, pemberdayaan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta pengembangan koperasi desa sebagai motor penggerak ekonomi kerakyatan.

‎Pandangan tersebut mengemuka dalam diskusi bertema “Kemandirian Pangan dan Pemberdayaan Ekonomi Domestik Hulu Hilir” yang digelar di Tambi Historia Tangsel, Kota Tangerang Selatan, Minggu (19/7/2026). Kegiatan menghadirkan Ketua Umum DPP Gerakan Cinta Prabowo (GCP), H. Kurniawan, sebagai narasumber utama, dengan moderator Rahmat Hidayat dari Litbang Historia Tangsel serta Ketua Yayasan Historia Tangsel, Agam Pamungkas. Diskusi diikuti berbagai unsur masyarakat, akademisi, pelaku UMKM, komunitas, dan generasi muda.

‎Dalam paparannya, H. Kurniawan menegaskan bahwa ketahanan pangan tidak lagi dipandang sebatas persoalan produksi pertanian, tetapi telah menjadi bagian dari strategi besar membangun kedaulatan ekonomi bangsa.


‎Menurutnya, tantangan global seperti krisis pangan, perubahan iklim, konflik geopolitik, dan perlambatan ekonomi dunia menuntut Indonesia memperkuat kemampuan produksi nasional yang terintegrasi dari hulu hingga hilir.

‎”Kemandirian pangan bukan hanya berbicara tentang produksi, tetapi bagaimana hasil produksi mampu memberikan nilai tambah melalui hilirisasi, memperkuat UMKM, menghidupkan koperasi desa, serta menciptakan lapangan kerja yang berdampak langsung terhadap kesejahteraan masyarakat,” kata H. Kurniawan.

‎Ia menambahkan, arah pembangunan tersebut sejalan dengan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, yang menempatkan ketahanan pangan, hilirisasi industri nasional, penguatan ekonomi kerakyatan, dan pembangunan desa sebagai prioritas menuju Indonesia yang lebih mandiri dan berdaya saing.

‎Sementara itu, Rahmat Hidayat mengatakan bahwa pembangunan ekonomi nasional harus dimulai dari penguatan fondasi ekonomi daerah. Menurutnya, desa memiliki potensi besar sebagai pusat produksi pangan sekaligus pusat pertumbuhan ekonomi apabila dikelola secara profesional.

‎Ia menilai forum diskusi seperti ini penting sebagai ruang kolaborasi untuk menyatukan gagasan dari akademisi, pemerintah, komunitas, dan masyarakat sehingga mampu melahirkan rekomendasi yang aplikatif dalam menjawab tantangan pembangunan.

‎Ketua Yayasan Historia Tangsel, Agam Pamungkas, menambahkan bahwa pembangunan ekonomi tidak dapat berjalan secara parsial. Diperlukan sinergi seluruh elemen bangsa agar potensi sumber daya alam, sumber daya manusia, serta kearifan lokal mampu menjadi kekuatan ekonomi yang berkelanjutan.

‎Menurutnya, semangat gotong royong harus terus menjadi landasan dalam membangun desa yang mandiri, produktif, dan mampu memberikan nilai tambah bagi masyarakat melalui pengembangan usaha berbasis potensi lokal.

‎Para peserta menyambut positif penyelenggaraan diskusi tersebut. Mereka berharap kegiatan serupa dapat dilakukan secara berkelanjutan sehingga tidak berhenti sebagai forum diskusi, melainkan berkembang menjadi gerakan nyata yang melibatkan masyarakat dalam membangun ekonomi berbasis potensi daerah.

‎Sebagai hasil dari diskusi, seluruh narasumber sepakat bahwa tantangan global hanya dapat dijawab melalui kolaborasi lintas sektor dengan membangun gerakan bersama masyarakat. Gerakan tersebut diarahkan untuk mewujudkan desa yang mandiri, produktif, berkelanjutan, dan ramah lingkungan melalui pengelolaan sumber daya alam secara terpadu berbasis agroekologi profesional.

‎Konsep tersebut menempatkan masyarakat sebagai pelaku utama pembangunan dengan mengoptimalkan potensi pertanian, peternakan, perikanan, perkebunan, UMKM, dan koperasi dalam satu ekosistem ekonomi yang saling terintegrasi.

Pendekatan ini diharapkan mampu meningkatkan ketahanan pangan, memperkuat ekonomi domestik dari hulu hingga hilir, menciptakan lapangan kerja, sekaligus menjaga kelestarian lingkungan sebagai modal pembangunan jangka panjang.

‎Diskusi di Tambi Historia Tangsel menjadi momentum untuk memperkuat komitmen bersama dalam mendukung implementasi Asta Cita Presiden Prabowo Subianto. Melalui kolaborasi pemerintah, dunia usaha, akademisi, organisasi masyarakat, dan warga, cita-cita mewujudkan Indonesia yang berdaulat di bidang pangan, mandiri secara ekonomi, serta berkelanjutan diyakini dapat diwujudkan secara bertahap dari desa menuju tingkat nasional.(*)

Karonesia
  • Penulis: tim redaksi
  • Editor: Lingga
Bagikan Artikel Ini
Informasi terpercaya dari karonesia.com
Redaksi Karonesia
Redaksi Karonesia
Articles: 7754

Artikel Populer