AS Negosiasi dengan Iran, tapi Kirim 2.000 Tentara ke Timur Tengah

AS Negosiasi dengan Iran, tapi Kirim 2.000 Tentara ke Timur Tengah

‎Jakarta (KARONESIA.COM) – Amerika Serikat membuka jalur diplomasi dengan Iran untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung 25 hari, namun di saat yang sama justru memperkuat kehadiran militernya di kawasan Timur Tengah.

‎Presiden Donald Trump menyatakan pembicaraan dengan Teheran sedang berjalan dan mengklaim Iran telah memberikan “hadiah” sebagai tanda itikad baik, mengutip Bloomberg via Kompas.com, Rabu (25/3/2026). Trump menyebut hadiah itu bernilai besar dan berkaitan dengan arus energi di Selat Hormuz.

‎”Kami sedang bernegosiasi sekarang,” kata Trump di Gedung Putih.

‎Negosiasi melibatkan utusan khusus Steve Witkoff, Jared Kushner, Menteri Luar Negeri Marco Rubio, dan Wakil Presiden JD Vance. Syarat utama AS tetap tidak berubah: Iran dilarang memiliki senjata nuklir.

‎”Mereka berbicara dengan kami, dan pembicaraannya masuk akal. Semuanya dimulai dari mereka tidak boleh memiliki senjata nuklir,” kata Trump.

‎Namun diplomasi tidak membuat Washington melonggarkan tekanan militernya. Pemerintahan Trump memerintahkan pengerahan sekitar 2.000 personel dari Divisi Lintas Udara ke-82 ke Timur Tengah. Gedung Putih menegaskan operasi militer bertajuk Operation Epic Fury tetap berjalan.

‎”Presiden Trump selalu memiliki semua opsi militer,” kata juru bicara Gedung Putih.

Dari pihak Iran, sinyal yang muncul masih beragam. Pemerintah Teheran mengakui menerima pesan negosiasi melalui mediator, namun parlemen Iran secara tegas menolak perundingan langsung dengan Trump.

Seorang wakil ketua parlemen menyatakan Iran tidak akan berunding dengan pihak yang dinilai tidak dapat dipercaya.

Di saat yang sama, Iran menunjuk tokoh garis keras Garda Revolusi, Mohammad-Bagher Zolghadr, sebagai kepala keamanan nasional baru.

Konflik ini menekan pasar energi global. Harga minyak Brent sempat turun sekitar 7 persen ke kisaran 97 dollar AS per barel setelah muncul harapan diplomasi, demikian dilaporkan Kompas.com mengutip Bloomberg, Rabu (25/3/2026).

Di dalam negeri AS, harga bensin di California mendekati 6 dollar AS per galon,  jauh di atas rata-rata nasional sekitar 4 dollar AS, menjadi rentetan kenaikan terpanjang sejak Mei 2022.

Selat Hormuz tetap menjadi titik panas utama. Jalur yang menanggung sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia itu nyaris berhenti beroperasi normal sejak konflik dimulai. Iran bahkan mulai menarik biaya dari kapal komersial yang ingin melintas, sekaligus memperingatkan konsekuensi berat jika infrastruktur vital mereka diserang.

‎Di tengah biaya perang yang terus membengkak dan tekanan domestik yang semakin terasa, Washington kini menghadapi pertaruhan besar: apakah tekanan militer akan membuka jalan bagi kesepakatan, atau justru menutupnya selamanya.(*)

Karonesia
  • Penulis: Redaksi KARONESIA.COM
  • Editor: Lingga
  • Sumber: Kompas.com (mengutip Bloomberg, Gedung Putih)
Bagikan Artikel Ini
Informasi terpercaya dari karonesia.com
Redaksi Karonesia
Redaksi Karonesia
Articles: 7004

Artikel Populer