Militer Iran Tolak Klaim Trump: Tidak Ada Negosiasi Kini dan Selamanya

Militer Iran Tolak Klaim Trump: Tidak Ada Negosiasi Kini dan Selamanya

Jakarta (KARONESIA.COM) – Tepat saat dunia berharap ada sinyal perdamaian, militer Iran justru menutup pintu rapat-rapat. Juru bicara komando gabungan Angkatan Bersenjata Iran, Ebrahim Zolfaqari, menegaskan bahwa negosiasi dengan Amerika Serikat bukan sekadar tertunda melainkan tidak akan pernah terjadi. Pernyataan keras itu muncul Rabu (25/3), bersamaan dengan berlanjutnya saling serang udara antara Israel dan Iran yang sudah memasuki pekan keempat.

‎Penolakan itu langsung menyasar klaim Presiden Donald Trump sehari sebelumnya yang menyebut AS tengah bernegosiasi dengan “orang-orang yang tepat” di Iran. “Apakah tingkat pergumulan batin Anda sudah sampai di titik bernegosiasi dengan diri sendiri?” sindir Zolfaqari di televisi pemerintah Iran. Juru bicara Kemenlu Iran, Esmaeil Baghaei, memperkuat sikap itu menegaskan tidak ada dialog maupun negosiasi dengan Washington dalam kondisi apapun.

‎Di lapangan, Israel menyerang infrastruktur di seluruh Teheran termasuk dua fasilitas produksi rudal jelajah angkatan laut. Iran membalas dengan gelombang serangan baru ke Tel Aviv, Kiryat Shmona, dan pangkalan-pangkalan AS di Kuwait, Yordania, serta Bahrain.

New York Times melaporkan bahwa AS telah mengirimkan rencana perdamaian 15 poin ke Teheran melalui jalur Pakistan mencakup pembongkaran program nuklir, penghentian dukungan terhadap kelompok proksi, dan pembukaan kembali Selat Hormuz namun Iran menolak seluruh kerangka itu.

‎Bagi Indonesia, konflik ini terasa langsung di SPBU. Harga BBM nonsubsidi sudah naik sejak 1 Maret, dipicu lonjakan harga minyak mentah dunia akibat penutupan Selat Hormuz. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia memastikan harga Pertalite tidak ikut naik, namun BBM nonsubsidi seperti Pertamax disesuaikan mengikuti fluktuasi harga minyak dunia yang kini mencapai 78–80 dolar AS per barel melampaui asumsi APBN 2026 sebesar 70 dolar AS per barel.

‎Indonesia mengimpor sekitar 1 juta barel minyak per hari, sehingga kenaikan harga minyak dunia langsung membebani APBN dengan potensi pembengkakan subsidi energi. Untuk LPG, Bahlil menyebut Indonesia mengimpor 7,8 juta ton per tahun 30 persen di antaranya berasal dari Timur Tengah dan pemerintah kini mengalihkan pembelian ke negara-negara di luar kawasan Selat Hormuz.

‎Ketika negosiasi ditolak dan militer terus diperkuat Pentagon dilaporkan bersiap mengirim ribuan tentara tambahan ke kawasan itu pertanyaannya bukan lagi kapan perang ini berakhir. Bagi jutaan konsumen Indonesia, dampaknya sudah terasa sebelum jawabannya datang.(*)

Karonesia
  • Penulis: Redaksi KARONESIA.COM
  • Editor: Lingga
  • Sumber: Reuters | Antara News | New York Times
Bagikan Artikel Ini
Informasi terpercaya dari karonesia.com
Redaksi Karonesia
Redaksi Karonesia
Articles: 7004

Artikel Populer