Tangerang Selatan (KARONESIA.COM) – Masyarakat di wilayah pinggiran Kota Tangerang Selatan kini mulai mendapatkan akses lebih luas terhadap literasi sejarah lokal seiring dengan digiatkannya mobilisasi perpustakaan keliling (PusLing) hingga ke pemukiman yang sulit dijangkau.
Langkah ini menjadi bagian dari upaya penyelamatan memori kolektif daerah yang selama ini terfragmentasi. Pemerintah kota bersama komunitas sejarah lokal mulai mengintegrasikan arsip-arsip lama ke dalam bentuk digital agar identitas kota tidak hilang ditelan perkembangan urban.
Di lapangan, sejumlah warga menyambut baik kehadiran akses informasi yang langsung menyentuh akar rumput. Selama ini, dokumen mengenai asal-usul kampung atau narasi sejarah lokal seringkali hanya tersimpan di rak-rak tua tanpa ada upaya digitalisasi yang masif.
“Memori kolektif adalah perekat sosial kemasyarakatan. Kami ingin memastikan kekayaan sejarah kota ini tetap terjaga dan dikenal generasi muda,” ujar Ketua Yayasan Historia Tangsel, Agam Pamungkas Lubah, saat memberikan keterangan kepada media di Tangerang Selatan, Minggu (15/2/2026).
Agam menegaskan bahwa keterlibatan aktif masyarakat dalam menyumbangkan informasi, foto lama, hingga rekaman lisan sangat krusial. Tanpa partisipasi warga, sejarah kota hanya akan menjadi catatan administratif yang kaku di gedung pemerintahan.
Merespons aspirasi tersebut, Sekretaris Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Tangerang Selatan, Tomi Patria Edwardy, menyatakan bahwa pemerintah pusat dan daerah berkomitmen merevitalisasi situs bersejarah serta melakukan digitalisasi arsip foto maupun dokumen lisan secara menyeluruh.
“Kami menyadari masih banyak lokasi yang sulit dijangkau. Karena itu, armada perpustakaan keliling kami optimalkan untuk menjangkau titik-titik tersebut agar jendela pengetahuan nasional maupun internasional bisa diakses merata,” kata Tomi.
Pemerintah juga mulai melakukan renovasi fisik pada sejumlah bangunan yang memiliki nilai historis tinggi guna menjaga keaslian arsitekturnya. Revitalisasi ini tidak hanya menyasar bangunan, tetapi juga penguatan kurikulum sejarah lokal di sekolah-sekolah melalui pameran dan tur sejarah.
Ke depan, integrasi antara data digital dan akses fisik ini diharapkan mampu membentuk karakter warga Tangsel yang sadar akan akar budayanya. Sejalan dengan prinsip “Jasmerah”, pelestarian sejarah kini diposisikan sebagai investasi sosial untuk memperkuat ciri khas masyarakat di tengah arus modernisasi.(*)
Link: https://karonesia.com/sosdikbud/historia-tangsel-jaga-identitas-kota-di-tengah-arus-modernisasi/


