Tangerang Selatan, (KARONESIA.com) – Mengenakan kaos kuning mencolok dengan kacamata berbingkai transparan, Raden Rizki Mulyawan Kertanegara Hayat—atau yang akrab disapa Dick Doank—berdiri di tengah rimbunnya bambu kawasan Tambi Historia, Tangerang Selatan. Dalam diskusi Historia The Series Part 8, Minggu (25/1/2026), sang seniman tidak sekadar bicara estetika, melainkan membedah seni sebagai kanal tunggal menuju pencarian kebenaran spiritual.
Diskusi ini merupakan kelanjutan dari seri sebelumnya yang sempat menyentuh ranah musik. Namun kali ini, fokus bergeser pada analisis verbal mengenai bagaimana pengalaman seni mampu mengejawantahkan ekspektasi diri menjadi laku kehidupan yang nyata. Di tengah modernitas yang kering akan makna, seni dipandang sebagai instrumen sufisme yang mampu menjembatani hubungan antara manusia dengan alam semesta.
Suasana Tambi Historia yang asri menjadi saksi saat Dick Doank, atau kini kerap disapa Syech Dick Doank/OmGan, memaparkan bahwa seni seringkali menjadi cara manusia mencari tujuan hidup yang kerap dibantah oleh logika dangkal. Baginya, seni adalah bahasa tanpa kata yang mampu mengungkapkan emosi terdalam sekaligus menciptakan kedamaian.

Ia menegaskan bahwa derajat pemahaman seseorang terhadap spiritualitas sangat bergantung pada keinginan individu tersebut untuk mendalami unsur kesadaran emosional.
“Seni adalah salah satu cara untuk mencari spiritualitas dan menghubungkan diri dengan alam semesta beserta isinya,” ujar pendiri Kandank Jurank Doank tersebut dengan nada mantap sambil berjalan menunjukkan beberapa detail di lokasi diskusi.
Ia berharap, kepekaan terhadap seni ini bisa menjadi frekuensi yang sama bagi setiap makhluk hidup dalam mengekspresikan kehidupan sehari-hari.
Senada dengan hal itu, Ketua Umum Yayasan Historia Tangsel, Bung Agam, menggarisbawahi bahwa kesadaran emosional dan spiritual merupakan garis tebal yang harus dimiliki setiap individu. Menurut Agam, sinkronisasi antara rasa dan perilaku melalui seni akan melahirkan kebenaran kontekstual yang selalu relevan dengan perkembangan zaman.
Diskusi yang dipandu oleh Buya Suhalimi Ismedi ini juga menyentuh aspek konsistensi mental seniman. Menjawab pertanyaan Bung Eka mengenai stabilitas semangat, Dick Doank menekankan pentingnya kesabaran spiritual. Jika manusia mampu mencapai titik tersebut, diharapkan tidak ada lagi ruang bagi kesombongan atau perilaku buruk dalam tatanan sosial kemasyarakatan.
Pertemuan ini diakhiri dengan penegasan bahwa suara kebenaran ilahiah sejatinya bersemayam dalam diri setiap makhluk. Melalui seni yang berbudaya dan beragama, Historia Tangsel berupaya mendorong masyarakat untuk kembali menemukan “jiwa” yang seringkali hilang dalam keriuhan duniawi.(*)
Link: https://karonesia.com/sosdikbud/dick-doank-bedah-spiritualitas-seni-di-historia-the-series-part-8/

