Iklan Karonesia
Home » Berita » PETIR Tangsel Lawan Stigma dengan Solidaritas dan Peningkatan SDM

PETIR Tangsel Lawan Stigma dengan Solidaritas dan Peningkatan SDM

×
Logo Karonesia

Editor: Lingga  |  @KARONESIA.COM

Tangerang Selatan, KARONESIA.com | Persaudaraan kembali ditegaskan sebagai modal sosial utama dalam menghadapi kompleksitas tantangan perkotaan oleh Persaudaraan Timur Raya (PETIR) Kota Tangerang Selatan. Nilai tersebut mengemuka dalam agenda silaturahmi PETIR yang digelar di Saung Gerbang Mas Pamulang Sejahtera, Tangerang Selatan, Sabtu (27/12/2025).

Dalam forum tersebut, PETIR menegaskan bahwa persaudaraan tidak sekadar menjadi simbol solidaritas internal organisasi, melainkan fondasi strategis untuk membangun kepercayaan publik sekaligus melawan stigma sosial yang selama ini masih melekat.

Ketua Umum PETIR, Alex Emanuel Kaju, menyampaikan bahwa masyarakat perkotaan saat ini tengah menghadapi krisis kohesi sosial. Gejala tersebut ditandai dengan menguatnya prasangka, melemahnya kepercayaan antarwarga, serta meningkatnya sikap individualisme. Dalam kondisi itu, persaudaraan dinilai menjadi energi kolektif yang menentukan arah perubahan sosial.

“Persaudaraan adalah kekuatan yang mampu mengubah cara pandang dan cara bertindak. Jika dikelola dengan nilai yang benar, ia akan menjadi daya dorong sosial yang nyata,” ujar Alex.

Ia menekankan bahwa persaudaraan tidak boleh berhenti pada jargon organisasi. Menurutnya, PETIR harus mampu menerjemahkan nilai tersebut ke dalam kerja sosial yang konkret, disiplin organisasi yang kuat, serta keberanian tampil sebagai bagian dari solusi atas persoalan masyarakat.

Legitimasi sosial organisasi, kata Alex, hanya dapat lahir dari konsistensi tindakan, bukan dari klaim semata.

Pandangan tersebut diperkuat Penasehat PETIR Kota Tangerang Selatan, Bung Indra. Ia menilai persaudaraan justru diuji ketika organisasi berada dalam tekanan dan menghadapi penilaian negatif dari publik.

“Dengan persaudaraan yang kuat, kita tidak mudah terpecah. Sebaliknya, kita bisa menjadi kekuatan besar untuk menghadapi kesulitan dan memberi manfaat langsung bagi lingkungan,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua PETIR Tangsel, Bung Irwan, mengarahkan agenda silaturahmi ini sebagai momentum pembenahan internal organisasi. Ia mengajak seluruh anggota meninggalkan pola lama yang kontraproduktif dan menggantinya dengan gerakan solidaritas sosial yang terukur serta berkelanjutan.

“Di mana ada PETIR, di situ harus ada pembangunan dan kemajuan. Citra positif hanya lahir dari kerja nyata, bukan dari klaim,” tegas Irwan.

Forum silaturahmi tersebut juga menjadi ruang refleksi kolektif terhadap stigma lama yang kerap dilekatkan kepada warga Indonesia Timur dan sering diasosiasikan dengan persoalan sosial. PETIR secara terbuka menantang stigma itu dengan menunjukkan keterlibatan aktif dalam kegiatan kemasyarakatan serta komitmen terhadap pembangunan lingkungan.

Melalui langkah tersebut, PETIR ingin membalik narasi, dari kelompok yang dicurigai menjadi komunitas yang berkontribusi nyata bagi masyarakat.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Tim Penasehat PETIR Tangsel, Bung Zulfikar, menyoroti pentingnya ketersediaan lapangan kerja bagi anggota. Ia menyampaikan adanya keinginan kuat untuk mendirikan perusahaan yang secara khusus menyalurkan keluarga besar PETIR Kota Tangerang Selatan ke lahan pekerjaan yang sesuai dengan kompetensi dan kebutuhan jaringan yang dimiliki.

Ia menegaskan kesiapan memberikan warna baru bagi PETIR Tangsel dengan memperkuat aspek kemandirian ekonomi anggota melalui penyaluran kerja yang terstruktur.

Arah gerakan tersebut dipertegas oleh Rahmat Daeng, Anggota Tim Penasehat DPC PETIR Tangsel. Ia mengingatkan bahwa moto PETIR adalah “Persaudaraan Tanpa Batas”, yang harus dimaknai secara lebih luas dan strategis. Sebagai Kepala Biro Bidang Ketenagakerjaan DPP PETIR, Rahmat juga menyampaikan sejumlah gagasan kolaboratif untuk mengubah cara pandang masyarakat terhadap PETIR.

Ia menyambut baik gagasan Ketua Tim Penasehat terkait penyaluran anggota PETIR ke lapangan pekerjaan yang layak dan sesuai kompetensi. Selain itu, Rahmat menilai pentingnya menyiapkan wadah peningkatan kapasitas anggota melalui pendidikan formal maupun nonformal.

Gagasan tersebut sejalan dengan pandangan Bung Indra selaku Ketua Dewan Pendiri dan Pembina sekaligus Kepala Biro Bidang Pendidikan dan Kebudayaan DPP PETIR, yang menekankan pentingnya literasi pendidikan dan literasi hukum bagi anggota.
Rahmat menegaskan bahwa persaudaraan harus dibarengi dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia agar tidak berhenti pada solidaritas emosional semata.

Ia mendorong PETIR mengambil peran strategis dalam pembekalan keterampilan kerja, penguatan etos profesional, serta kesiapan menghadapi pasar tenaga kerja yang semakin kompetitif.

“Harapan kami, PETIR menjadi rumah persaudaraan sekaligus pusat peningkatan kapasitas. Anggota harus dibekali keterampilan, disiplin, dan mental kerja yang kuat. Dengan begitu, persaudaraan tidak hanya menjaga soliditas internal, tetapi juga melahirkan anggota yang mandiri, produktif, dan bermanfaat bagi anak bangsa,” ujar Rahmat.

Ia menegaskan bahwa solidaritas sejati adalah solidaritas yang membebaskan dari ketergantungan dan membuka jalan menuju kemandirian ekonomi. Menurutnya, PETIR memiliki peluang besar untuk menjadi contoh organisasi sosial yang mampu memadukan nilai persaudaraan, peningkatan kualitas tenaga kerja, dan kontribusi nyata bagi masyarakat.(*)

Bagikan artikel ini untuk menyebarkan informasi terpercaya dari karonesia.com.

Artikel ini telah tayang di Karonesia.com dengan judul "PETIR Tangsel Lawan Stigma dengan Solidaritas dan Peningkatan SDM"
Link: https://karonesia.com/ragam/petir-tangsel-lawan-stigma-dengan-solidaritas-dan-peningkatan-sdm/

Iklan ×