Iklan Karonesia
Home » Berita » Pacu Jalur dan Diplomasi Sungai Indonesia di Era Digital

Pacu Jalur dan Diplomasi Sungai Indonesia di Era Digital

Logo Karonesia

Penulis: ASTA B SEMBIRING,Universitas Padjadjaran Bandung,Fakultas Manajemen Komunikasi,Semester I  |  Editor: Lingga  |  @KARONESIA.COM

Jawa Barat, KARONESIA.com | Seorang penari Pacu Jalur berdiri tegak di atas perahu panjang yang melaju kencang di Sungai Kuantan, Riau. Adegan ini merepresentasikan kekompakan, tradisi, dan budaya sungai yang terus hidup sekaligus menandai bagaimana sebuah praktik lokal dapat menemukan panggung global di era digital.

Pernahkah kita menyaksikan video Pacu Jalur yang viral di media sosial? Tradisi lomba perahu dari Provinsi Riau itu mendadak ramai diperbincangkan warganet lintas negara. Potongan visual perahu panjang yang melaju cepat, lengkap dengan penari di atasnya, membawa Pacu Jalur masuk ke algoritma global melampaui konteksnya sebagai perayaan budaya lokal.

Fenomena tersebut bukan semata perkara tren. Di balik popularitasnya, tersimpan potensi besar budaya sungai Indonesia sebagai instrumen diplomasi. Melalui media sosial, tradisi lokal seperti Pacu Jalur mampu menjangkau audiens internasional secara tiba-tiba, membentuk persepsi tentang Indonesia tanpa harus melalui jalur diplomasi formal. Momentum ini membuka peluang bagi wajah baru diplomasi Indonesia di era digital.

Sungai, Budaya, dan Diplomasi di Era Digital

Selama ini, diplomasi budaya Indonesia kerap diasosiasikan dengan batik, kuliner, atau seni pertunjukan. Padahal, Indonesia juga merupakan negara sungai dan maritim. Sungai tidak hanya berfungsi sebagai jalur transportasi, tetapi juga sebagai ruang hidup, ruang budaya, dan ruang ingatan kolektif masyarakat. Dari sungailah beragam tradisi lahir dan membentuk identitas lokal yang kuat.

Pacu Jalur menjadi contoh nyata relasi tersebut. Tradisi lomba perahu ini tumbuh dari hubungan masyarakat Kuantan Singingi dengan Sungai Kuantan. Nilai gotong royong, disiplin, kebersamaan, hingga harmoni dengan alam terajut dalam satu perahu panjang yang didayung bersama. Ketika tradisi seperti ini tampil di ruang global melalui media digital, yang dikomunikasikan bukan sekadar atraksi visual, melainkan nilai-nilai sosial dan budaya Indonesia.

Menariknya, popularitas Pacu Jalur tidak lahir dari kampanye negara yang besar dan terencana. Ia tumbuh organik melalui media sosial. Perkembangan ini menandai perubahan penting dalam diplomasi budaya, ketika publik dan komunitas lokal turut berperan sebagai aktor diplomasi.

Platform digital seperti TikTok menciptakan bentuk baru public diplomacy berbasis masyarakat (people-to-people diplomacy) yang cair dan partisipatif. Audiens global mungkin tidak memahami sejarah Pacu Jalur secara mendalam, tetapi mampu merasakan energi, keindahan, dan kekompakan yang ditampilkan. Dari ketertarikan inilah dialog lintas budaya mulai terbentuk.

Dari Viral ke Visioner

Namun, viralitas saja tidaklah cukup. Tantangan berikutnya adalah memastikan momentum ini tidak berhenti sebagai hiburan sesaat. Sungai dan tradisi yang hidup di sekitarnya memiliki potensi besar untuk dirangkai menjadi narasi diplomasi Indonesia apabila dikelola dengan strategi yang tepat.

Pacu Jalur, Festival Mahakam, serta berbagai tradisi sungai di Kalimantan, Sumatra, hingga Papua dapat diposisikan sebagai bagian dari Diplomasi Sungai Indonesia sebuah pendekatan yang menggabungkan budaya, lingkungan, dan teknologi digital. Sungai tidak sekadar dipromosikan sebagai objek wisata, melainkan sebagai simbol peradaban, keberlanjutan, dan soft power berbasis budaya lokal.

Belajar dari Sungai

Pengalaman kolektif yang lahir dari tradisi sungai menunjukkan bahwa diplomasi tidak selalu harus hadir dalam format megah dan formal. Ia dapat mengalir pelan seperti sungai, membawa cerita, manusia, dan nilai dari lokal menuju global.

Pacu Jalur memperlihatkan bahwa ketika budaya dirawat oleh komunitasnya dan diberi ruang di dunia digital, ia mampu mendayung melampaui batas geografis. Tantangan ke depan adalah memastikan arus ini diarahkan secara bijak, agar budaya tidak hanya viral, tetapi juga bermakna dan berkelanjutan.

Mungkin, di masa depan, Indonesia tidak hanya dikenal sebagai negara dengan ribuan pulau, tetapi juga sebagai bangsa yang mampu mendiplomasikan sungai-sungainya.(*)

Bagikan artikel ini untuk menyebarkan informasi terpercaya dari karonesia.com.

Artikel ini telah tayang di Karonesia.com dengan judul "Pacu Jalur dan Diplomasi Sungai Indonesia di Era Digital"
Link: https://karonesia.com/opini/pacu-jalur-dan-diplomasi-sungai-indonesia-di-era-digital/

Iklan ×