Tangerang Selatan (KARONESIA.COM) – Di tengah harga pakan yang terus merayap naik, sebagian pelaku usaha mikro memilih jalan lain yaitu, beternak maggot, jangkrik, cacing tanah, hingga kroto. Modal tidak besar, siklus panen cepat dan pasarnya ternyata ada.
Tren budidaya alternatif ini kian diminati warga sebagai strategi bertahan di tengah tekanan biaya produksi. Komoditas non-konvensional itu kini bukan lagi sekadar usaha iseng melainkan sumber penghasilan yang diperhitungkan.

Disampaikan Darwis yang selama ini budidaya cacing jenis lumbricus dan Maggot, Sabtu (21/2/2026, ada beberapa jenis yang bisa dibudidayakan tanpa biaya tinggi karena sumber makanannya sangat banyak tersedia di Tangerang Selatan, seperti:
Maggot menjadi primadona. Larva lalat tentara hitam (Black Soldier Fly) ini mampu mengurai limbah organik rumah tangga sekaligus menghasilkan pakan berprotein tinggi bagi ayam dan ikan. Biaya produksinya lebih rendah dari pakan pabrikan, sementara permintaan dari sektor peternakan dan perikanan terus tumbuh.
Jangkrik menyusul dengan daya tariknya sendiri. Siklus panen 30–40 hari membuat perputaran arus kas terasa nyata. Permintaan datang dari penghobi burung kicau, pemilik reptil, hingga pembudidaya ikan hias pasar yang stabil dan tidak mudah goyah.
Cacing tanah menawarkan keunggulan berbeda: produk ganda. Selain dijual sebagai pakan, cacing menghasilkan kascing pupuk organik yang banyak dicari petani. Pasarnya lintas sektor: pertanian organik, perikanan, hingga industri pengolahan tertentu.
Kroto, atau telur semut rangrang, melengkapi daftar dengan nilai jual tertinggi. Permintaan dari kalangan penghobi burung dan pemancing bertahan stabil sepanjang tahun. Harga yang kompetitif membuat komoditas ini menarik bagi pelaku usaha skala kecil hingga menengah.
Pengamat ekonomi mikro menilai sektor ini berpotensi tumbuh sepanjang 2026 terutama jika didukung pelatihan, akses modal, dan pasar yang lebih terstruktur. Namun mereka mengingatkan agar pelaku usaha tidak mengabaikan standar kebersihan dan manajemen produksi agar usaha bisa bertahan jangka panjang.
Secara lingkungan, budidaya maggot dan cacing berkontribusi pada pengurangan limbah organik. Praktik ini sejalan dengan prinsip ekonomi sirkular limbah diolah menjadi produk bernilai tambah, bukan sekadar dibuang.
Dengan efisiensi biaya, lahan fleksibel, dan siklus panen singkat, ternak alternatif kini berdiri sejajar dengan usaha konvensional dalam pilihan UMKM memperkuat ketahanan ekonomi rumah tangga.(*)
Link: https://karonesia.com/ekonomi/modal-kecil-untung-cepat-budidaya-maggot-hingga-kroto/


