Jakarta (KARONESIA.COM) – Bayangkan kalau bahasa yang dipakai nenek moyang kita sehari-hari tiba-tiba hilang dari muka bumi. Bukan cuma kata-katanya yang lenyap tapi cerita rakyat, pantun, petuah, dan cara pandang hidup sebuah komunitas ikut musnah selamanya. Itulah yang sedang terjadi di Indonesia.
Negara kita tercatat sebagai pemilik bahasa daerah terbanyak kedua di dunia dengan 718 bahasa. Tapi kabar mirisnya, sebagian besar dari bahasa-bahasa itu kini berstatus rentan, terancam punah, bahkan kritis artinya sudah hampir tidak ada lagi yang menuturkannya, terutama dari kalangan muda.
Merespons kondisi gawat ini, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa) Kemendikdasmen menggelar Gelar Wicara Hari Bahasa Ibu Internasional 2026 di Jakarta, Rabu (18/2/2026). Forum ini bukan sekadar seremoni peringatan melainkan ruang serius untuk mencari solusi bersama, dengan anak muda sebagai tokoh sentralnya.
“Ini menjadi tanggung jawab kita bersama agar bahasa daerah tetap hidup dan digunakan oleh generasi muda,” tegas Kepala Badan Bahasa, Hafidz Muksin, di hadapan 135 peserta yang hadir secara luring.
Sudah 120 Bahasa Diselamatkan, Tapi Masih Jauh dari Cukup
Kabar baiknya, program revitalisasi bahasa daerah yang sudah berjalan sejak beberapa tahun lalu mulai membuahkan hasil. Sampai akhir 2025, pemerintah bersama berbagai pihak berhasil mengintervensi 120 bahasa daerah di 38 provinsi agar tidak punah.
Tapi angka itu belum cukup bikin lega. Dari 718 bahasa yang ada, masih ratusan yang belum tersentuh program apapun dan banyak di antaranya hanya dituturkan oleh segelintir orang lanjut usia. Kalau tak ada tindakan cepat, bahasa-bahasa itu bisa benar-benar hilang dalam satu atau dua generasi ke depan.
Belajar Pakai Bahasa Ibu, Anak Sumba Timur Langsung Bisa Baca
Salah satu cerita paling menarik datang dari ujung timur Pulau Sumba. Bupati Sumba Timur, Umbu Lili, berbagi pengalaman pahit, tingginya angka putus sekolah di wilayahnya ternyata salah satunya disebabkan oleh hambatan bahasa.
Anak-anak kelas 1 SD dipaksa belajar dalam bahasa Indonesia, bahasa yang mereka sama sekali tidak pakai di rumah, di pasar, atau saat bermain. Hasilnya, mereka jadi bingung, stres, dan akhirnya menyerah sebelum menyelesaikan sekolah dasar.
Solusinya ternyata sederhana, pakai bahasa daerah dulu sebagai pengantar di kelas awal. Setelah kebijakan itu diterapkan bersama lembaga INOVASI, hasilnya langsung terasa. Kemampuan membaca anak-anak meningkat signifikan, suasana kelas lebih hidup, dan angka putus sekolah mulai turun.
Hal serupa juga berhasil diterapkan di SDN Aebowo, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur. Kepala sekolahnya, Maria Ugha, bercerita bahwa dulu kalau guru mengajar pakai bahasa Indonesia, siswa hanya diam, bukan karena tidak mau belajar, tapi karena mereka memang tidak paham. Begitu bahasa daerah dipakai, kelas langsung berubah menjadi tempat belajar yang menyenangkan.
Aplikasi Bali Raup 60 Ribu Pengguna, Gen Z Bisa Jadi Pelopor
Inovasi menarik juga hadir dari Bali. Duta Bahasa Provinsi Bali 2025, Ida Ayu Alit Srilaksmi, memperkenalkan aplikasi PARASALI singkatan dari Pelindungan Bahasa dan Sastra Bali. Aplikasi berbasis edutainment ini menggabungkan kamus, permainan, dan lagu dalam bahasa Bali untuk menarik minat anak muda.
Hasilnya bikin kagum, hingga 2026, PARASALI sudah punya lebih dari 61.000 pengguna aktif. Ini membuktikan bahwa bahasa daerah bisa dikemas dengan cara yang kekinian dan tetap menarik bagi Gen Z.
Perwakilan UNESCO Indonesia, Gunawan Zakki, juga mengingatkan bahwa anak muda punya kekuatan luar biasa di era digital ini. Mereka bisa membuat konten yang menyisipkan bahasa daerah, menyebarkannya lewat media sosial, dan menjangkau jutaan orang tanpa perlu anggaran besar dari pemerintah.
Satu usulan simpel tapi kena banget, coba satu hari berbahasa daerah, minimal di tanggal 21 Februari setiap tahun, bertepatan dengan Hari Bahasa Ibu Internasional.
Bahasa Daerah Butuh Kita
Bahasa bukan sekadar kumpulan kata. Ia adalah cermin cara berpikir, cerminan sejarah, dan jati diri sebuah komunitas. Kalau satu bahasa punah, dunia kehilangan satu sudut pandang yang tidak bisa digantikan oleh bahasa manapun.
Pemerintah sudah mulai bergerak. Tapi tanpa partisipasi aktif dari generasi muda terutama mereka yang tumbuh di daerah dengan bahasa asli yang kaya, semua program itu tidak akan cukup.
Jadi, masih ingatkah kamu satu-dua kata dalam bahasa daerahmu hari ini?
Link: https://karonesia.com/sosdikbud/revitalisasi-bahasa-daerah-indonesia-2026-anak-muda/


