Brebes (KARONESIA.COM) – Senja baru saja turun di Desa Cikuya, Kabupaten Brebes. Cahaya kemerahan masih tersisa di langit barat ketika sinarnya menembus sela pepohonan dan masuk melalui jendela rumah papan milik Castem (60). Bayangan panjang tergambar di dinding, seperti sore-sore sebelumnya.
Namun hari itu berbeda. Di ruang tamu rumah sederhana tersebut, sebuah lampu LED putih menggantung rapi di langit-langit. Kabel dan saklar telah terpasang di dinding. Hanya satu sentuhan yang memisahkan rumah itu dari gelap yang selama bertahun-tahun menemani malamnya.
Castem menatap lampu itu lama. Senyumnya tak henti merekah. Untuk pertama kalinya, ia memiliki sambungan listrik sendiri.
Selama ini ia hanya menumpang listrik dari tetangga. Setiap kali menyalakan lampu atau menggunakan peralatan elektronik, ia selalu merasa sungkan.
“Sudah lama saya ingin punya listrik sendiri. Selama ini cuma menumpang ke tetangga, jadi tidak enak hati kalau terlalu banyak menyalakan lampu,” katanya dengan mata berkaca-kaca.
Baginya, listrik bukan sekadar penerangan. Listrik berarti kenyamanan dan kemandirian. “Kadang cucu saya masih belajar, saya sudah kepikiran takut merepotkan. Mau pakai alat listrik juga tidak bebas. Rasanya seperti bukan rumah sendiri,” ujarnya pelan.
Program pemasangan KWh listrik melalui kegiatan TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) Reguler ke-127 Kodim 0713/Brebes akhirnya menjawab harapan tersebut. Bagi sebagian orang mungkin hanya instalasi listrik biasa, tetapi bagi Castem itu adalah perubahan besar dalam hidupnya.
Di sudut ruangan, cucunya Nayla (11) duduk dengan buku pelajaran di pangkuan. Selama ini ia belajar dengan penerangan terbatas. Sering kali ia harus berhenti membaca karena cahaya tidak lagi cukup membantu penglihatannya.
Castem lalu mengulurkan tangan ke arah saklar. Klik…Cahaya putih langsung memenuhi ruang tamu. Terang, tidak redup. Wajahnya semakin berseri.
“Sekarang saya senang sekali. Rumah sudah terang. Cucu saya bisa belajar lebih nyaman dan saya tidak menyusahkan tetangga lagi. Terima kasih, akhirnya keinginan saya terkabul,” tuturnya.
Bagi Castem mungkin hanya satu lampu, tetapi bagi Nayla itu berarti waktu belajar yang lebih panjang dan kesempatan meraih cita-cita.
Babinsa Koramil 14/Banjarharjo, Serka Feri Wida Primawan, yang memantau pemasangan listrik tersebut menyaksikan langsung kebahagiaan nenek dan cucu itu.
“Ini bukan hanya soal listrik menyala. Ini tentang kemandirian dan kesempatan. Anak-anak bisa belajar lebih nyaman dan keluarga dapat beraktivitas tanpa bergantung pada orang lain,” ujarnya.
Kini, malam di rumah kecil itu tak lagi identik dengan gelap. Sebuah lampu sederhana menjadi tanda awal kehidupan yang lebih leluasa dan penuh harapan.(*)
Link: https://karonesia.com/sosdikbud/lampu-pertama-di-senja-brebes-sebuah-awal-menuju-terang/


